Hukum Bersalaman Setelah Shalat

0
847

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya bersalaman atau berjabat tangan antar muslim ketika mereka bertemu adalah sesuatu yang disyariatkan. Syariat ini tidak terikat waktu, tempat dan kejadian tertentu. Bisa saja kala waktu pagi atau malam, di kantor atau di sawah, waktu acara wisuda atau di luar acara tersebut, atau kapan pun dan di mana pun bisa dilakukan. Termasuk setelah shalat. Sebagaimana hadis berikut:

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِه يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ (رواه البخارى)

“Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya”. (H.R. Bukhari, hadis ke 3360) 

Bersalaman setelah shalat itu terdapat nilai yang terkandung di dalamnya yaitu kebaikan yang bisa menambah rasa cinta dan eratnya persaudaraan sesama muslim. Hal ini karena sejatinya bersalaman itu kebiasaan Nabi ketika beliau bertemu dengan para sahabatnya. Dari sahabat Anas bin Malik dan asy-Sya’bi mengatakan:

كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا تلاقوا تصافحوا وإذا قدموا من سفر تعانقوا

Para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika saling bertemu mereka bersalaman, dan jika mereka datang dari safar mereka saling berpelukan”.

Selain itu, bersalaman juga membuat yang bersangkutan mendapatkan ampunan dari Allah sebagaimana sabda Nabi berikut:

عنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

Baca Juga :  Agar Makanan Dapat Keberkahan, Lakukan Empat Kriteria Ini

Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

Seiring berjalannya waktu, kini bersalaman setelah shalat kian menjadi adat dan tradisi. Dalam tradisi masyarakat tertentu bahkan jika bersalaman setelah shalat ditinggalkan itu akan meninggalkan kesan yang tak biasa, yang mungkin saja bisa membuat seseorang tak enak hati dengan sesorang yang di sebelahnya. Sehingga lambat laun, bersalaman setelah shalat menjamur kemana-mana.

Dalam perihal ini, Imam Nawawi dalam Mirqatul Mafatih mengungkapkan bahwa bersalaman adalah merupakan sesuatu yang sunah dalam tiap kali pertemuan. Apa yang sering dilakukan orang setelah shalat Subuh dan shalat Asar itu tidak ada asalnya secara khusus. Namun kebiasaan tersebut tidak keluar dari hukum sunahnya bersalaman yang disyariatkan secara asalnya. Hal itu sebagaimana ungkapannya berikut:

اَنَّ اْلمُصَا فحَة بَعْدَ الصَّلاة وَدُعَاء المُسْلِمِ لآخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِأنْ يَّتقبَلَ الله مِنهُ صَلاتهُ بِقوْلِهِ (تقبَّلَ الله) لاَ يَخفى مَا فِيْهِمَا مِنْ خَيْرٍ كَبِيْرٍ وَزِيَادَةِ تَعَارُفٍ وَتألُفٍ وَسَبَب لِرِبَطِ القلوْبِ وَاِظهَار للْوَحْدَةِ وَالترَابُطِ بَيْنَ اْلمُسْلِمِينْ

Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendoakan saudara muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda) adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sabab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam

Oleh karena itu, bersalaman setelah shalat itu dianjurkan dalam syariat Islam. Selain mendapatkan pengampunan dari Allah bagi pelakunya, bersalaman juga dapat membuat para Jemaah hubungan semakin erat. Wallah a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here