Hukum Berniat Keluar dari Ibadah

0
405

BincangSyariah.Com – Niat menjadi pokok utama yang harus dipahami saat mau melakukan suatu ibadah. Sebagaimana tujuan niat, ia ada untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya atau antara ibadah dengan adat (‘aadah). Niat menjadi kunci pembuka setiap ibadah. Jika niatnya tepat, maka ibadahnya bisa diharap. Jika niatnya keliru, maka sia-sia saja ibadah yang dilakukan.

Niat harus tertanam kuat dalam hati sampai suatu ibadah selesai dikerjakan. Maksudnya tidak boleh berniat keluar dari ibadah yang dikerjakan sebelum usai dilaksanakan. Karena niat keluar dari suatu ibadah dapat memengaruhi pada keabsahan ibadah tersebut. Sebut saja salat, di tengah rokaat kedua misalkan terbesit untuk keluar dari salat karena ada panggilan masuk di hp-nya, maka otomatis ia keluar dari salatnya. Dalam artian batal.

Namun tidak semua ibadah yang dilakukan bisa batal karena berniat keluar darinya. Disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain bahwa,

العبادة بالنسبة الى قطع النية اربعة اقسام قسم يبطل بمجرد قطع نيته اتفاقا وهو الاسلام والصلاة وقسم لا يبطل بذلك اتفاقا وهوالحج والعمرة وقسم لا يبطل بذلك على الاصح وهو الصوم والاعتكاف وقسم لا يبطل ما مضى منه على الاصح لكن يحتاج الباقي الى تجديد نية وهو الوضوء والغسل

Ibadah jika dikaitkan dengan niat keluar darinya (menggugurkan niat) adalah terbagi empat. Pertama, dapat membatalkan ibadah dengan kesepakatan para ulama, yaitu dalam hal keyakinan (islam) dan salat. Kedua, sepakat para ulama tidak membatalkan ibadah yang dilakukan, yaitu dalam ibadah haji dan umroh. Ketiga, tidak membatalkan ibadah yang dikerjakan menurut pendapat yang lebih sahih, yaitu dalam ibadah puasa dan i’tikaf. Keempat, tidak membatalkan pada ibadah yang telah dikerjakan, namun sisanya dianjurkan untuk memperbaharui niat, contohnya dalam wudu; dan mandi.

Dapat disimpulkan bahwa ketika kita berniat keluar dari ibadah yang dilakukan, maka konsekuensinya ada dua. Pertama ibadah yang dilakukan menjadi batal dan kedua ibadahnya tetap sah. Yang pertama hanya tertuju pada keislaman dan ibadah salat. Yang kedua ibadah secara umum selain yang pertama.

Baca Juga :  Tata Cara Shalat Sunnah Mutlak Pada Malam 27 Sya’ban

Sebut saja wudu, jam 07:00 mulai berwudu, semua anggota wudu; sudah dibasuh kecuali kaki. Basuhan untuk kaki dilanjutkan pada jam 09:00, maka basuhan sebelumnya tidak perlu diulang, hanya saja sunah berniat kembali. Atau mandi besar, malamnya separuh bagian atas, paginya separuh bagian bawah.

Misalkan pengantin baru yang malu-malu untuk mandi besar di pagi hari. Ia boleh-boleh saja dini hari mandi separuh bagian atas, lalu paginya melanjutkan sisanya tanpa harus mengulang dari awal. Dia hanya dianjurkan berniay kembali. Atau puasa, misalkan di siang hari dalam hati sudah bulat mau berhenti, namun tidak melakukan hal yang membatalkan puasa, maka puasanya tetap sah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here