Hukum Berkurban atas Nama Orang Lain

0
676

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, berkurban pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq sangat dianjurkan atau sunnah muakkadah. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa amalan ibadah yang paling dicintai Allah pada hari Idul Adha adalah menyembelih hewan kurban.

Anjuran berkurban ini sangat ditekankan lagi bagi orang Muslim yang memiliki kemampuan harta untuk berkurban. Bahkan Menurut Imam Abu Hanifah, berkurban bagi orang yang memiliki kelapangan harta adalah wajib. Sehingga jika tidak berkurban, maka hukumnya dosa karena telah meninggalkan perkara wajib.
Namun bolehkah orang yang memiliki kelapangan harta berkurban untuk orang lain?

Jika ada orang Muslim yang memiliki kelapangan harta kemudian hendak berbuat baik kepada orang lain dengan cara berkurban untuknya atau atas namanya, maka dalam hal ini terdapat dua ketentuan sebagai berikut.

Pertama, jika orang tersebut masih termasuk anggota keluarga semisal istri, maka berkurban atas nama anggota keluarga tersebut diperbolehkan tanpa harus minta izin terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi Saw. ketika beliau berkurban atas nama istri-istrinya tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Sayidah Aisyah, dia berkisah;

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَيْهَا وَحَاضَتْ بِسَرِفَ ، قَبْلَ أَنْ تَدْخُلَ مَكَّةَ وَهْىَ تَبْكِى فَقَالَ : مَا لَكِ أَنَفِسْتِ . قَالَتْ نَعَمْ قَالَ : إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَاقْضِى مَا يَقْضِى الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ . فَلَمَّا كُنَّا بِمِنًى أُتِيتُ بِلَحْمِ بَقَرٍ ، فَقُلْتُ مَا هَذَا قَالُوا ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ أَزْوَاجِهِ بِالْبَقَرِ

“Nabi Saw. pernah  menemui Sayidah Aisyah di Sarif sebelum masuk Mekkah dan ketika itu Sayidah Aisyah sedang menangis. Kemudian Nabi Saw. bertanya, ‘Kenapa? Apakah engkau sedang haid?.’ Sayidah Aisyah menjawab; ‘Iya’. Beliau pun bersabda, ‘Ini adalah ketetapan Allah bagi para wanita. Tunaikanlah manasik sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang berhaji namun jangan thawaf di Ka’bah.’

Baca Juga :  Bolehkan Orang Musafir dan Anak Kecil Berkurban?

Tatkala kami di Mina, saya didatangkan daging sapi. Saya pun berkata, ‘Apa ini?.’ Mereka (para sahabat) menjawab, ‘Rasulullah Saw. melakukan udhiyah (berkurban) atas nama istri-istrinya dengan sapi.”

Kedua, jika orang tersebut bukan anggota keluarga, maka harus minta izin terlebih dahulu. Jika dia mengizinkan, maka boleh berkurban untuknya atau atas namanya. Sebaliknya jika dia tidak mengizinkan, maka tidak boleh. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Wahbah Azzuhaili dalam kitabnya Alfiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

قال الشافعية: لا يضحي عن الغير بغير اذنه

“Ulama Syafiiyah berkata; ‘Tidak boleh berkurban untuk orang lain tanpa seizin dari orang tersebut.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here