Hukum Berdoa Minta Hujan Ketika Khutbah Jumat

0
39

BincangSyariah.Com – Ketika terjadi kemarau panjang, biasanya kaum muslimin akan melakukan shalat Istisqa sebagai sarana untuk minta hujan. Selain itu, terdapat sebagian khatib yang berdoa minta hujan ketika khutbah Jumat. Bagaimana hukum berdoa minta hujan ketika khutbah Jumat?

Menurut ulama Syafiiyah, berdoa meminta hujan ketika khutbah Jumat hukumnya boleh. Tidak masalah khatib berdoa minta hujan ketika menyampaikan khutbah Jumat, asalkan pada khutbah kedua tidak meninggalkan berdoa untuk kebaikan akhirat bagi para kaum muslimin. (Baca: Hadis Mengenai Hujan yang Turun Siang dan Malam)

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

النَّوْعُ الثَّانِي: وَهُوَ أَوْسَطُهَا، الدُّعَاءُ بَعْدَ صَلاَةِ الْجُمُعَةِ أَوْ غَيْرِهَا مِنَ الصَّلَوَاتِ، وَفِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِوَنَحْوِ ذَلِكَ. قَال الشَّافِعِيُّ فِي الأْمِّ: وَقَدْ رَأَيْتُ مَنْ يُقِيمُ مُؤَذِّنًا فَيَأْمُرُهُ بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ وَالْمَغْرِبِ أَنْ يَسْتَسْقِيَ، وَيَحُضَّ النَّاسَ عَلَى الدُّعَاءِ، فَمَا كَرِهْتُ مَا صَنَعَ مِنْ ذَلِكَ. وَخَصَّ الْحَنَابِلَةُ هَذَا النَّوْعَ بِأَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ مِنَ الإْمَامِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ

Cara minta hujan yang kedua, dan ini yang tengah-tengah, adalah berdoa setelah shalat Jumat atau shalat lainnya, juga ketika khutbah Jumat dan lainnya.

Imam Syafii berkata dalam kitab Al-Umm; Sungguh aku telah melihat seseorang yang berdiri sebagai muazzin dan kemudian setelah melaksanakan shalat Shubuh dan Maghrib ia menyuruh untuk meminta turun hujan, ia juga mengajak masyarakat untuk sungguh-sungguh berdoa meminta hujan, dan saya tidak benci terhadap apa yang ia lakukan. Ulama Hanabilah mengkhususkan cara ini dengan cara imam berdoa di atas mimbar ketika khutbah Jumat.

Adapun dalil kebolehan berdoa minta hujan ketika khutbah Jumat adalah hadis riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik, dia berkata;

Baca Juga :  Apakah Kotoran di Bawah Kuku Membuat Wudhu Tidak Sah?

أَصَابَتْ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا وَضَعَهَا حَتَّى ثَارَ السَّحَابُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ وَمِنْ الْغَدِ وَبَعْدَ الْغَدِ وَالَّذِي يَلِيهِ حَتَّى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى..

Artinya:

Pada masa Nabi Saw, manusia tertimpa paceklik. Ketika Nabi Saw sedang memberikan khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ada seorang Arab Badui berdiri dan berkata; Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.

Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangannya, dan saat itu kami tidak melihat sedikitpun ada awan di langit. Namun demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh beliau tidak menurunkan kedua tangannya kecuali gumpalan awan telah datang membumbung tinggi laksana pegunungan.

Beliau belum turun dari mimbar hingga akhirnya aku melihat hujan turun membasahi jenggot beliau. Maka pada hari itu kami terus-terusan mendapatkan guyuran hujan dan hari-hari berikutnya hingga hari Jumat berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here