Hukum Berbicara Saat Buang Hajat

0
963

BincangSyariah.Com – Mengobrol atau berbicara dengan teman, sanak saudara atau sahabat adalah hal yang hampir tidak bisa terlepas dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika di dalam kamar mandi pun, kadang sebagian orang masih saja mengobrol dengan teman atau orang yang berada di luar kamar mandi. Kalaupun tidak mengobrol dengan teman, biasanya orang akan dihinggapi rasa bosan saat buang hajat (kencing atau berak) di dalam kamar mandi. Maka, ia pun akan bernyanyi-nyanyi sebagai hiburan diri. Lalu bagaimana hukumnya berbicara/mengobrol saat buang hajat?

Di dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji Ala Madzhab Al-Imam Al-Syafi’i disebutkan terkait adab ketika buang hajat. Yakni bagi orang tersebut hendaknya tidak memandang langit, melihat kemaluannya dan tidak pula melihat sesuatu yang keluar dari kemaluannya. Karena hal itu semua adalah suatu hal yang tidak layak dan patut dilakukan saat buang hajat.

Adapun berkaitan dengan mengobrol atau berbicara saat buang hajat, disebutkan

ويكره القاضي الحاجة الكلام وغيره أثناء قضائها.

Dan di makruhkan bagi orang yang sedang buang hajat berbicara dan semisalnya di tengah buang hajat.

Hal ini sebagaimana riwayat Ibnu Umar r.a.

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.

 Ada seseorang laki-laki yang lewat, sedangkan Rasulullah saw. sedang kencing, lalu ia mengucapkan salam pada beliau, namun beliau tidak menjawab salamnya. (HR. Muslim).

Selain itu terdapat juga riwayat Abu Said Al-Khudri yang pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

لَا يَخْرُجْ الرَّجُلَانِ يَضْرِبَانِ الْغَائِطَ كَاشِفَيْنِ عَنْ عَوْرَتِهِمَا يَتَحَدَّثَانِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ

Dua orang laki-laki tidak lah keluar lalu mendatangi kamar mandi (wc) dengan membuka auratnya sambil berbica (mengobrol), melainkan sungguh Allah azza wa jalla marah atas perbuatan tersebut. (HR. Abu Daud).

Baca Juga :  Hukum Menunda Penguburan Jenazah

Berdasarkan keterangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa mengobrol atau berbicara di tengah buang hajat (kencing atau berak) adalah berhukum makruh. Mendapatkan pahala bagi yang mau meninggalkannya. Sementara itu, ulama juga memakruhkan makan, minum, bermain-main atau melakukan hal-hal yang sia-sia lainnya saat buang hajat. Hal ini merupakan sebagai bentuk qiyas atau analogi hukum atas hukum makruh berbicara saat buang hajat. Wa Allahu A’lam bis Shwab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here