Hukum Berbicara Lewat Telpon Ketika Tawaf

0
3

BincangSyariah.Com – Saat ini, terdapat sebagian jemaah haji yang membawa hp atau telpon pada saat melakukan tawaf. Ketika ada panggilan masuk, apakah dia boleh mengangkatnya dan berbicara lewat telpon atau handpone tersebut?

Menurut para ulama, berbicara pada saat melakukan tawaf hukumnya boleh, terutama jika hal itu dibutuhkan atau untuk kebaikan. Kebolehan berbicara ini tidak hanya secara langsung tatap muka, namun juga boleh lewat hp, dan lainnya. Karena itu, selama dibutuhkan atau untuk kebaikan, maka berbicara tidak masalah pada saat tawaf, baik langsung atau lewat hp.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ berikut;

فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ يَجُوزُ الْكَلَامُ فِي الطَّوَافِ وَلَا يَبْطُلُ بِهِ وَلَا يُكْرَهُ لَكِنَّ الْأَوْلَى تَرْكُهُ إلَّا أَنْ يَكُونَ كَلَامًا فِي خَيْرٍ كَأَمْرٍ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ أَوْ تَعْلِيمِ جَاهِلٍ أَوْ جَوَابِ فَتْوَى وَنَحْوِ ذَلِك

Imam Syafii dan ulama Syafiiyah mengatakan bahwa berbicara di dalam tawaf itu boleh, tidak membatalkan tawaf dan tidak dimakruhkan, tetapi lebih utama ditingalkan kecuali pembicaraan tentang kebaikan seperti memerintahkan kebajikan, mencegah kemungkaran, mengajari orang yang belum tahu, menjawab fatwa dan lain sebagainya.

Dalil yang dijadikan dasar kebolehan berbicara saat tawaf ini, baik langsung atau lewat telpon, adalah hadis riwayat Imam Al-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلاةِ؛ إِلا أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ، فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ فَلا يَتَكَلَّمَنَّ إِلا بِخَيْرٍ

Tawaf sekitar Baitullah (Ka’bah) adalah seperti shalat, kecuali sungguh kalian berbicara di dalamnya. Oleh karena itu, siapa yang berbicara ketika tawaf, maka (hendaknya) dia tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.

Meskipun boleh berbicara saat tawaf, baik langsung atau lewat hp, namun sebaiknya hal itu dihindari kecuali karena ada kebutuhan yang sangat penting atau untuk kebaikan. Sebaiknya, seseorang yang sedang melakukan tawaf menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah dengan membaca dzikir, berdoa atau membaca Al-Quran.

Ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berikut;

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَدَعَ الْحَدِيثَ -أي في الطواف-؛ إلا ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى، أَوْ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ، أَوْ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ، أَوْ نَهْيًا عَنْ مُنْكَرٍ، أَوْ مَا لا بُدَّ مِنْهُ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وآله وسلم: الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاةٌ، فَمَنْ تَكَلَّمَ فَلا يَتَكَلَّمُ إلا بِخَيْرٍ

Disunnahkan meninggalkan perkataan, yakni ketika di dalam tawaf kecuali dzikir kepada Allah, membaca Al-Quran, memerintahkan kebajikan, mencegah kemungkaran atau sesuatu yang harus diucapkan. Karena Nabi Saw bersabda: Tawaf di Baitullah itu (seperti) shalat. Karena itu siapa yang berbicara, maka hendanya ia tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here