Hukum Bepergian di Hari Jumat

0
1791

BincangSyariah.Com – Bepergian atau melakukan perjalanan ke luar rumah pastinya pernah dialami oleh setiap orang. Baik bepergian jarak dekat maupun jauh. Dan bagi orang yang melakukan perjalanan atau biasa disebut musafir tersebut telah diberikan rukhsah atau dispensasi oleh agama untuk boleh menjamak (menggabungkan dua salat fardu pada satu waktu) atau meng-qasar (meringkas empat rakaat menjadi dua rakaat) salat mereka jika perjalanannya telah mencapai kira-kira 81 km. dan perjalanan yang dilakukan bukan untuk maksiat.

Bagi musafir laki-laki pun memiliki dispensasi untuk tidak salat Jumat. Tetapi jika laki-laki yang diwajibkan salat jumat tersebut bepergian di hari Jumat setelah munculnya fajar di hari itu kecuali jika sangat memungkinkan baginya untuk melakukannya di tempat tujuannya atau di jalan, maka haram baginya melakukan perjalanan di hari Jumat. Sebagaimana keterangan di dalam kitab-kitab bermazhab Syafii seperti kitab Al Bajuri  karya imam Ibrahim Albajuri berikut ini

ويحرم على من تلزمه الجمعة السفر بعد فجر يومها الا اذا أمكنه فعلها في مقصده أوطريقه أو تضرر بتخلفه عن الرفقة وانما حرم قبل الزوال مع أنه لم يدخل وقتها لانها منسوبة الى اليوم ولذلك يجب السعي لها على بعيد الدار قبل الزوال وقد ورد أن المسافر يوم الجمعة يدعوعليه ملكان يقولان لانجاه الله من سفره.

Diharamkan bagi orang yang melaksanakan salat Jumat bepergian setelah fajarnya hari itu, kecuali jika ia memungkinkan mengerjakannya di tempat tujuannya, di jalan atau karena adanya bahaya (jika ia tidak berpergian) sebab tertinggal oleh rombongan. Dan haram pula melakukan perjalanan sebelum tergelincirnya matahari, meskipun ia belum masuk waktu salat Jumat (tetapi) karena salat Jumat dinisbatkan pada hari itu. Oleh karena itu, wajib berusaha untuk salat Jumat atas jauhnya rumah sebelum tergelincirnya matahari. Sungguh telah ada (sebuah hadis atau riwayat yang mengatakan) bahwa orang yang bepergian di hari Jumat, maka dua malaikat akan mendokan untuknya agar Allah tidak akan menyelamatkan perjalanannya.

Sementara di dalam kitab Assyarqawi syarh Attahrir karya Imam As Syarqawi memberikan kesimpulan bahwa, keharaman bepergian di hari Jumat bagi orang yang wajib melaksanakannya itu jika terdapat tiga unsur di dalamnya. Pertama, (sudah ada dugaan kuat jika perjalanannya itu) tidak memungkinkan salat Jumat di jalan. Kedua, tidak ada bahaya dengan ketinggalan rombongan. Ketiga, perjalanannya bukan hal yang wajib dilakukan segera. Selain itu, Imam As Syarqawi juga mengatakan bahwa tidak diragukan lagi keharamannya jika ia bepergian dengan maksud untuk meninggalkan salat Jumat.

Wa Allahu A’lam bis Shwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here