Hukum Bekam Saat Berpuasa

0
116

BincangSyariah.Com – Dalam menjaga kesehatan, masyarakat muslim Indonesia memiliki banyak pilihan berdasarkan kepercayaannya. Ada yang memilih untuk berobat ke pengobatan medis di klinik, ada pula yang mencoba memilih pengobatan tradisional. Salah satu metode pengobatan tradisional yang banyak dilakukan masyarakat adalah berbekam.

Bekam atau dalam bahasa medis disebut cupping adalah usaha mengeluarkan sedikit darah dari pori-pori tubuh, dibantu dengan gelas atau cungkup tertentu. Dalam bahasan sejarah Islam, bekam ini disebut dengan hijamah. Rasulullah sendiri pernah melakukan tindakan bekam ini, hanya disebutkan dalam syarah hadis, bahwa bekam di era Rasululah dan Islam awal menggunakan cungkup dari tanduk hewan yang telah dihaluskan.

Nabi menyebutkan dalam hadis,

الشفاء في ثلاث: شربة عسل، و شرطة محجم، و كية النار. و أنا أنهى أمتي عن الكي

“Pengobatan itu dalam tiga hal: minum madu, berbekam, dan api dari ‘kayy’. Aku melarang umatku untuk melakukan ‘kayy’ (menyundut bagian sakit dengan besi yang dipanaskan)” (HR. Al Bukhari)

Keterangan Nabi yang demikian, didukung oleh periwayatan hadis dan betapa populernya tindakan bekam atau cupping ini, membuat ia banyak dipraktekkan hingga sekarang. Para peneliti masih menelusuri manfaat, efek samping, dan risiko dari tindakan berbekam ini.

Mengingat ia dipraktekkan secara luas di banyak belahan dunia, salah satu permasalahan seputar bekam ini adalah bagaimana hukum bekam saat berpuasa. Anda tahu, rupanya ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab soal ini.

Mari kita tinjau dulu ulama yang berpendapat bahwa berbekam tidak membatalkan puasa. Kalangan yang menyatakan demikian adalah dari kalangan ulama mazhab Syafii, Maliki, dan mazhab Abu Hanifah. Mereka berdalil dengan adanya hadis bahwa Nabi pernah berbekam saat puasa, berikut hadisnya:

عنِ ابنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عنهم عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنَّه احتجَمَ وهو صائِمٌ

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anhum, bahwa Nabi pernah berbekam dan beliau sedang berpuasa” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Selain hadis tersebut, ada juga keterangan yang menunjukkan bahwa sahabat Anas bin Malik pernah dikonfirmasi tentang tindakan berbekam saat puasa. Beliau menjawab tidak masalah, selama tidak memicu rasa letih dan lemas.

Argumen lain yang dipakai bahwa bekam tidak membatalkan puasa adalah tindakan berbekam ini tidak seperti kriteria membatalkan puasa yaitu memasukkan sesuatu ke lubang tubuh yang terbuka secara sengaja. Demikian dalam mazhab Syafi’i, seperti disebutkan Syekh Zakariya al-Anshari dalam karyanya Fathul Wahhab. Bekam tentu tidak masuk dalam ketentuan di atas.

Pendapat berbeda diajukan oleh kalangan mazhab Ahmad bin Hanbal, kemudian pengikut Ibnu Taimiyah seperti Ibnu Qayyim al Jauziyah. Ulama kontemporer di Arab Saudi seperti Ibnu Utsaimin juga berpendapat demikian, dengan menambah argumen bahwa bekam dapat melemahkan badan sehingga akan membutuhkan asupan makanan/minuman.

Keterangan batalnya puasa akibat bekam ini didasarkan pada hadis berikut,

عن شدَّادِ بنِ أوسٍ رَضِيَ اللهُ عنه أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: “أفطَرَ الحاجِمُ والمَحجومُ

Diriwayatkan dari Syaddad bin Aus, bahwa Nabi bersabda: “Pelaksana dan orang yang dibekam batal puasanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Ibnu Qayyim al Jauziyah sebagai salah satu pengikut Ibnu Taimiyah mengupas pendapat ini dalam karyanya Ath-Thibbun Nabawi. Ibnu Qayyim mempertemukan kedua hadis yang bertentangan tentang bekam saat berpuasa, dan beliau ini condong kepada pendapat bahwa bekam dapat membatalkan puasa. Hadis di atas secara eksplisit menyatakan bahwa orang yang berbekam batal puasanya. Hadis di atas dinilai kualitasnya shahih.

Di sisi lain, hadis yang menunjukkan bahwa Nabi berbekam saat puasa – sebagaimana telah disinggung di atas – yang menjadi dasar kebolehan bekam saat puasa tidak menunjukkan secara jelas bagaimana detail tindakan Nabi saat puasa tersebut, catat Ibnu Qayyim. Apakah Nabi saat itu sedang sakit parah, sampai memutuskan berbekam?Apakah Nabi berbekam saat sedang di suatu perjalanan jauh yang membolehkan tidak puasa? Apakah bekam itu dilakukan saat puasa wajib?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut Ibnu Qayyim tidak lengkap dipaparkan dalam hadis tentang kebolehan bekam saat puasa maupun hadis marfu’ lain yang menunjukkan kecenderungan demikian. Ragam pertanyaan yang diajukan Ibnu Qayyim itu dipandang lebih kuat argumennya untuk memicu batalnya puasa. Menurut Ibnu Qayyim, keterangan yang lebih eksplisit soal batalnya puasa sebab bekam menjadi lebih diunggulkan.

Selain itu, hadis afthara al-haajim wal mahjum ini dinilai disampaikan lebih dulu, sehingga ia adalah hukum yang jadi ketetapan (‘azimah) dan kebolehan bekam saat puasa itu semata rukhsah atau keringanan. Tidak mungkin ada keringanan tanpa dibangun atas hukum yang pasti, demikian pendapat Ibnu Qayyim.

Ala kulli haal, dari sudut pandang penulis, tulisan ini menyampaikan bahwa bekam tetap boleh dilaksanakan saat puasa dan tidak membatalkan. Namun jika dirasa dari pengalaman sebelumnya bekam justru mengakibatkan sugesti dan kondisi tertentu yang menghambat puasa, hendaknya ditunda dulu hingga puasa usai. Bekam adalah cara berobat yang masih banyak dilakukan masyarakat, dan bagaimanapun kepercayaan terhadap tindakan tersebut, perlu dipastikan bahwa tindakan bekam dilakukan secara steril, bertanggung jawab, dan juga mempertimbangkan kondisi tubuh. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here