Hikmah Membaca Surah Pendek dalam Tarawih

1
11318

BincangSyariah.Com – Membaca surah Alquran setelah membaca surah Alfatihah sangat dianjurkan dalam shalat, baik shalat wajib maupun sunah, terutama dalam shalat jahriyah atau shalat yang bacaan Alfatihah dan surah Alquran dianjurkan dibaca keras. Di antara shalat sunah jahriyah adalah shalat tarawih. Ketika melaksanakan shalat tarawih, dianjurkan membaca surah Alquran setelah membaca surah Alfatihah.

Pada dasarnya tidak ada ketentuan khusus dari Alquran dan tuntunan langsung dari Nabi Saw mengenai surah-surah apa saja yang harus dibaca dalam shalat tarawih. Hanya saja Nabi Saw. memberikan tuntunan agar dalam shalat berjamaah hendaknya imam membaca surah-surah pendek agar tidak menimbulkan fitnah kepada jamaah atau makmum kecuali makmum setuju jika imamnya membaca surah-surah panjang.

Meski demikian, kita diperbolehkan menentukan sendiri surah-surah apa saja yang ingin dibaca pada saat shalat tarawih atau shalat yang lain. Juga diperbolehkan membaca surah yang sama dalam shalat secara berulang-ulang, seperti membaca surah Alikhlas dalam setiap rakaat kedua dalam shalat tarawih. Hal ini berdasarkan hadis riwayat imam al-Bukhari dari Anas, dia berkisah:

كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ وَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِى الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ افْتَتَحَ بِپ ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ، ثُمَّ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى مَعَهَا ، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ ، فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى ، فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى . فَقَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا ، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ . وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ ، فَلَمَّا أَتَاهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ : يَا فُلاَنُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُومِ هَذِهِ السُّورَةِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ. فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّهَا . فَقَالَ : حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ

“Ada seorang laki-laki dari kalangan sahabat Anshar yang menjadi imam di masjid Quba’. Setiap ia membaca surah selalu didahului dengan membaca surah Alikhlas sampai selesai, baru kemudian membaca dengan surah lainnya, dan ia lakukan dalam setiap rakaatnya. Para sahabat yang lain merasa kurang senang dengan hal ini dan mereka protes sambil berkata kepada imam tersebut, ‘kamu membaca surah Alikhlas setiap hendak membaca surah yang lain seakan-akan tidak cukup jika tidak didahului dengan surah Alikhlas ini. Boleh kamu membaca surah Alikhlas atau tinggalkan dan membaca surah yang lain’. Kemudian imam tadi menjawab, ‘saya tidak akan meninggalkan membaca surah Alikhlas tersebut. Jika kalian suka dengan apa yang saya lakukan, saya akan mengimami kalian. Sebaliknya jika tidak suka, saya tinggalkan kalian’. Para sahabat melihat bahwa imam tersebut adalah orang termulia di antara mereka sehingga mereka tidak suka jika imam diganti dengan orang lain. Setelah mereka ketemu Nabi Saw., mereka ceritakan kejadian tersebut. Lalu Nabi Saw. bertanya: “Apa yang menyebabkan kamu membaca surah ini terus-menerus di setiap rakaat?“. Ia menjawab: “Saya senang dengan surat Alikhlas”. Nabi Saw. menjawab: “Kesenanganmu pada surah ini memasukkanmu ke dalam surga.

Hadis ini menjadi dasar kebolehan menentukan sendiri surah-surah yang ingin dibaca pada saat shalat, termasuk dalam shalat tarawih. Bahkan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mempertegas kebolehan tersebut dengan berkata;

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْقُرْآنِ بِمَيْلِ النَّفْسِ إِلَيْهِ وَالِاسْتِكْثَارِ مِنْهُ وَلَا يُعَدُّ ذَلِكَ هِجْرَانًا لِغَيْرِهِ

Hadis ini adalah dalil diperbolehkannya menentukan (membaca) sebagian Alquran berdasarkan kemauannya sendiri dan memperbanyak membacanya, dan hal ini tidak dianggap sebagai pembiaran terhadap surat yang lain.”

Imam shalat tarawih dua puluh rakaat umumnya membaca surah Attakasur sampai surah Allahab pada rakaat pertama dan pada rakaat kedua membaca surah Alikhlas pada malam pertama sampai lima belas, dan membaca surah Alqadar pada malam kelima belas sampai malam terakhir.

Hal ini selain bertujuan agar meringankan kepada makmum, juga dijadikan tanda dan ukuran jumlah rakaat yang sudah dilaksanakan. Apabila imam sudah membaca surah Allahab, maka menandakan bahwa shalat tarawih sudah di rakaat terakhir.

Berikut surah-surah pendek yang umumnya dibaca pada rakaat pertama dalam shalat tarawih yang berjumlah dua puluh rakaat;

Surah Attakatsur
Surah Alashr
Surah Alhumazah
Surah Alfiil
Surah Quraisy
Surah Alma’un
Surah Alkautsar
Surah Alkafirun
Surah Annas
Surah Allahab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here