Hikmah Disyariatkannya Tayamum Sebagai Alternatif Bersuci

0
38

BincangSyariah.Com – Tayamum adalah salah satu model syariat bersuci dalam Islam. Bersuci dengan cara tayamum diperbolehkan ketika seseorang tidak mendapatkan air untuk bersuci atau sedang ada halangan (tidak bisa) menggunakan air dikarenakan semisal sakit sehingga bersucinya menggunakan debu.

Hikmah disyariatkannya tayamum menggunakan debu disebutkan oleh Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi dalam kitabnya Hikmat at-Tasyri’ wa Falsafatuhu (h. 104-105),

Pertama, bertujuan menghinakan nafsu ammarah (kesombongan) dengan cara mengusapkan debu kepada anggota tubuh terutama bagian wajah yang padahal merupakan anggota tubuh yang paling mulia.

Kedua, menjelaskan keutamaan umat nabi Muhammad SAW. dimana tayamum tidak disyariatkan pada umat sebelumnya sebagai bentuk keringanan (rukhsah) dari Allah bagi kita umat Rasulullah. Hal ini didasarkan dari hadis Rasululluh dalam kitab Shahih al-Bukhari (j. 1 h. 74) tentang lima hal yang hanya dianugerahi kepada Nabi Muhammad Saw. dan tidak kepada yang lain,

أَخْبَرَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Jabir bin Abdullah mengabarkan kepada kami bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. bersabda, aku diberi lima hal dimana yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku. Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedatanganku) sejauh perjalanan sebulan; Bumi (tanah atau debu) dijadikan untukku sebagai sebagai masjid (tempat shalat) dan suci mensucikan (bisa digunakan tayamum juga), maka siapa saja dari umatku yang menemui waktu shalat, hendaklah dia shalat. Harta rampasan perang (ghanimah) dihalalkan untukku dimana itu tidak halal untuk siapapun sebelumku. Aku diberi anugerah oleh Allah memberikan syafaat. Dan, para nabi terdahulu (sebelumku) diutus khusus kepada kaumnya sementara aku diutus kepada manusia semuanya.

Bersuci menggunakan air untuk hadas besar harus merata ke seluruh anggota tubuh. Namun, untuk hadas kecil cukup sebagian (anggota) tubuh saja. Hal tersebut sulit diaplikasikan kalau menggunakan media debu. Sehingga Allah memberikan keringanan hukum dengan adanya tayamum hanya mengusap debu ke anggota tubuh tertentu saja yakni wajah dan kedua tangan.

Ketiga, menjadikan debu sebagai ganti dari air dikarenakan debu bisa dijangkau dengan mudah lantaran ditemukan dimana-mana (setiap tempat) dan juga debu merupakan unsur diciptakannya manusia.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here