Hikmah Disyariatkannya Membasuh Anggota Tubuh saat Wudhu

0
2169

BincangSyariah.Com – Wudhu adalah cara membersihkan atau mensucikan diri dari hadas kecil. Wudhu menjadi syarat sahnya suatu ibadah seperti shalat, haji, i’tikaf (berdiam diri di dalam masjid) dan sebagainya.

Nabi amat menganjurkan agar wudhu dilakukan dengan sempurna. Maksud sempurna bukan cuma melaksanakan rukun-rukunnya saja seperti membasuh muka, kedua tangan sampai kedua siku dan sebagainya. Sunnah-sunnah wudhu hendaknya jangan ditinggalkan seperti berkumur-kumur, membasuh kedua telapak tangan dan sebagainya. Ini seperti disabdkan Nabi Saw dalam Shahih Muslim yang dikutip Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin,

وعن عثمان بن عفان رضي ﷲ عنه قال: قال رسول ﷲ صلی ﷲ عليه وسلم: من توضاء فاحسن الغضوء خرجت خطاياه حتی تخرج من تحت اظفاره, رواه مسلم

Dari Ustman bin Affan ra. ia berkata: Nabi bersabda “ barang siapa yang berwudhu’ maka (hendaklah) ia memperbagus (menyempurnakan) wudhu’nya maka segala kesalahannya keluar hingga dari bawah kuku-kukunya. HR. Muslim.

Hadis tersebut memberikan penjelasan agar wudhu dilakukan dengan sempurna, yaitu bukan hanya fardunya saja yang dikerjakan akan tetapi praktik sunnahnya hendaknya jangan sampai dilewatkan saat membasuh. Ketika wudhu dikerjakan dengan sempurna, maka seperti dijelaskan dalam hadis diatas dosa-dosanya hilang bersama air wudhu yang menetes.

Ketika membasuh anggota tubuh yang termasuk kedalam anggota berwudhu, rupanya ada hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.

Imam al-Baijuri dalam karyanya Hasyiyah Al-Baijuri ‘ala Ibn Qosim mengungkap hikmah-hikmah disyariatkannya membasuh anggota tubuh saat berwudhu, sebagai berikut:

Pertama, hikmah membasuh kedua telapak tangan adalah untuk mengambil dan menikmati hidangan-hidangan surga yang maha nikmat.

Kedua, hikmah berkumur-kumur adalah untuk berkomonikasi dengan Allah Tuhan alam semesta.

Imam Ghazali dalam kitabnya Bidayatu al-Hidayah memberikan sebuah isyarat melalui doa yang beliau ajarkan bahwa yang dimaksud dengan berkomunikasi dengan Allah adalah dengan membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah.

Baca Juga :  Rentang Waktu Minimal I'tikaf Menurut Empat Mazhab

قل: اَللّٰهُمَ اَعِنِّی عَلٰی تِلَاوَۃِ كِتَابِكَ وَكَثْرَۃِ الذِّكْرِلَكَ وَثَبِّتْنِی بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِی الْحَيَاۃِ الدُّنْيَا وَفِی الْآَخِرَۃِ

Katakanlah: ya Allah tolonglah aku atas membaca kitabMu dan banyak menyebutMu, dan tetapkanlah aku dengan kata-kata yang tetap dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Ketiga, hikmah menghirup air adalah untuk mencium harum semerbaknya kebun surga.

Sebagaimana doa yang diajarkan Al-Ghazali,

اَللّٰهُمَّ اَرِحْنِی رَاءِحَۃَ الْجَنَّۃِ

Ya Allah, harumkanlah kepadaku harumnya surga.

Keempat, hikmah membasuh muka adalah untuk memandang keagungan wajah Allah di surga nanti.

Kelima, hikmah membasuh kedua tangan adalah agar dipakaikan gelang yang indah nanti di surga.

Keenam, hikmah mengusap kepala adalah agar dapat memakai mahkota di surga.

Ketujuh, hikmah mengusap dua telinga adalah untuk mendengar firmanNya Allah ta’ala.

Kedelapan, hikmah membasuh kedua kaki adalah agar dapat berjalan melangkahkan kaki ke surga.

Keterangan di atas memberikan pelajaran khususnya kepada kaum muslimin bahwa dalam hal disyariatkannya suatu amalan ada hikmah-hikmah yang tersedia di dalamnya. Maka dengan ini harapannya adalah kaum muslimin merasa terdorong untuk selalu memperkuat keimanan agar semakin hari semakin mantap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here