Hikmah Anjuran Bersiwak

0
2845

BincangSyariah.Com – Di antara kebiasaan Nabi Saw adalah membersihkan gigi dengan siwak. Siwak dalam bahasa Arab artinya menggosok, sehingga bersiwak artinya menggosok gigi dan sekitarnya dengan benda yang dapat menghilangkan kotoran gigi dan bau mulut.

Banyak keutamaan dan manfaat memakai siwak yang telah disampaikan Nabi Saw, di antaranya hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda;

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ

Jika aku tidak takut memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka memakai siwak setiap kali akan melaksanakan shalat.”

Dalam hadis riwayat Ibnu Majah dan al-Nasa’i dari Sayyidah ‘Aisyah, Nabi Saw bersabda;

السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ وَمَجْلاَةٌ لِلْبَصَرِ

Memakai siwak itu mengharumkan mulut, membuat Allah ridha dan membuat terang mata”.

Bersiwak hukumnya sunah dan boleh menggunakan benda apa pun baik kayu arak, sikat gigi dan lain sebagainya. Bersiwak hendaknya dilakukan dalam berbagai keadaan, bukan hanya pada saat mulut terasa kotor saja. Ada beberapa keadaan yang sangat dianjurkan untuk bersiwak sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Saw.

Pertama; saat hendak shalat. Nabi Saw ketika hendak shalat selalu bersiwak dan menganjurkan umatnya untuk bersiwak setiap hendak melaksanakan shalat. Shalat yang didahului dengan bersiwak lebih utama daripada shalat yang tanpa didahului dengan bersiwak. Dalam kitab Kasyful Khafa’ Muzil al-Ilbas, al-‘Ajluni meriwayatkan hadis yang bersumber dari Sayyidah ‘Aisyah, Nabi Saw bersabda;

رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاك

Dua rakaat dilaksanakan dengan memakai siwak lebih baik dari 70 rakaat tanpa siwak”.

Kedua; saat masuk rumah karena datang dari bepergian. Hal ini sebagaimana cerita Sayyidah ‘Aisyah, bahwa Nabi Saw. ketika masuk rumah karena datang dari bepergian, maka beliau langsung bersiwak.

Baca Juga :  Bersuci (Thaharah) itu Memiliki Empat Tingkatan Menurut Imam Al-Ghazali

Ketiga; saat bangun tidur malam. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Huzaifah bin al-Yaman,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

Nabi Saw apabila bangun malam, beliau membersihkan mulutnya dengan bersiwak.”

Hendaknya ketika bersiwak diniatkan untuk mengikuti sunah Nabi Saw supaya mendapatkan pahala dalam bersiwak. Juga sunnah membaca doa di bawah ini ketika bersiwak;

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشُدَّ بِهِ لِثَّتِيْ وَثَبِّتْ بِهِ لَهَاتِي وَأَفْصِحْ بِهِ لِسَانِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ وَأَثِبْنِيْ عَلَيْهِ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allahumma bayyidh bihi asnani wa syudda bihi liststati wa tsabbit bihi lahati wa afshih bihi lisani wa barik li fihi wa astibni alaihi ya arhamar rahimini

Ya Allah putihkan gigiku dan kuatkan gusiku, serta kuatkan lahat-ku (daging yang tumbuh di atas langit-langit mulut) dan fasihkan lidahku dengan siwak itu, serta berkatilah siwak tersebut dan berilah pahala aku karenanya, wahai Dzat paling mengasihi di antara para pengasih”.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here