Hikmah dan Keutamaan Menjaga Wudhu

1
15742

BincangSyariah.Com – Wudhu termasuk praktik bersuci yang mesti dilakukan sebelum melaksanakan ibadah shalat dan ibadah lainnya. Secara bahasa, wudhu mengandung arti al-hasan wan nazhafah, yaitu kebaikan dan kebersihan. Dengan demikian wudhu mengandung sebuah hikmah yang mengisyaratkan kepada umat Islam bahwa ketika hendak melaksanakan suatu ibadah atau perbuatan yang lain, hendaknya didahului dengan kebaikan, kebersihan dan kesucian, baik lahir maupun batin.

Sejatinya selain dilakukan sebelum ibadah, wudhu juga dianjurkan dalam seluruh kondisi. Seorang muslim dianjurkan agar selalu berada dalam kondisi bersuci (wudhu) sebagaimana yang dahulu dicontohkan oleh Nabi Saw. dan para sahabatnya. Mereka senantiasa berwudhu, baik dalam kondisi cuaca normal atau sangat dingin bila memungkinkan.

Kebiasaan senantiasa dalam kondisi wudhu ini sedikit yang mampu melakukannya karena beberapa sebab, di antaranya adalah perasaan malas. Perasaan malas ini akan hilang saat seseorang mengetahui keutamaan wudhu.

Ada banyak keutamaan wudhu yang disampaikan oleh Nabi Saw., di antaranya sebagai berikut;

Pertama, jalan menuju surga. Hal ini sebagaimana yang didapatkan Sayyidina Bilal bin Rabah, suara sandal beliau didengar oleh Nabi Saw. di surga sebabnya karena beliau senantiasa wudhu dan disertai dengan shalat dua rakaat. Dalam hadis riwayat al-Imam Muslim, Abu Hurairah berkata:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ

“Nabi Saw. pernah menyampaikan kepada Bilal ketika shalat Subuh, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan paling engkau harapkan yang pernah engkau amalkan dalam Islam, karena sungguh aku telah mendengarkan detak kedua sandalmu di depanku dalam surga”. Bila berkata, “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku. Cuma saya tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku sholat bersama wudhu’ itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku

Kedua, menghilangkan dosa dan mengangkat derajat di surga. Wudhu adalah amalan ringan, tapi pengaruhnya ajaib dan luar biasa. Selain menghapuskan dosa kecil, wudhu juga mengangkat derajat dan kedudukan seseorang dalam surga. Dalam hadis riwayat al-Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu (amalan) yang dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Mereka berkata, “Mau, wahai Rasulullah” Beliau bersabda, “(Amalan itu) adalah menyempurnakan wudhu di waktu yang tak menyenangkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah menunaikan shalat. Itulah pos penjagaan.” 

Ketiga, tanda sebagai umat Nabi Saw. Nabi Saw telah mengabarkan bahwa beliau akan mengenali umatnya di padang mahsyar dengan adanya cahaya pada anggota tubuh mereka, karena pengaruh wudhu mereka ketika di dunia. Dalam hadis riwayat al-Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia bercerita;

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ فَقَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا

“Rasulullah Saw. pernah mendatangi pekuburan seraya bersabda, “Semoga keselamatan bagi kalian wahai rumah kaum mukminin. Kami semua insya Allah akan berjumpa dengan kalian.” Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami”. Mereka (para sahabat) berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kalian adalah para sahabatku. Sedang saudara kami adalah orang-orang yang belum datang berikutnya”.

Mereka berkata, “Bagaimana anda mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya dari kalangan umatmu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagaimana pandanganmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih wajah, dan kakinya di antara kuda yang hitam pekat. Bukankah ia bisa mengenal kudanya”. Mereka berkata, “Betul, wahai Rasulullah”.

Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka (umat Nabi Saw.) akan datang dalam keadaan putih wajah dan kakinya karena wudhu. Sedang aku akan mendahului mereka menuju telaga. Ingatlah, sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana onta tersesat terusir. Aku memanggil mereka, “Ingat, kemarilah” Lalu dikatakan (kepadaku), “Sesungguhnya mereka melakukan perubahan setelahmu”. Lalu aku katakan, “Semoga Allah menjauhkan mereka”.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here