Haruskah Membaca Qunut Dua Kali Karena Masbuq Shalat Subuh?

3
4934

BincangSyariah.Com – Dalam mengerjakan shalat berjamaah, menjadi suatu keharusan bagi makmum untuk mengikuti imam dalam shalatnya. Ketentuan ini juga berlaku untuk makmum masbuq, yaitu makmum yang baru shalat mengikuti imam ketika imam sudah mengerjakan sebagian rakaatnya.

Yang menjadi pertanyaan, ketika shalat subuh berjamaah, makmum yang baru datang dan mengikuti imam pada rakaat kedua (masbuq), lalu ia ikut membaca doa qunut bersama imam. Maka apakah setelah imam salam, apakah ia harus membaca qunut lagi yang berarti membaca qunut dua kali karena posisinya sebagai makmum masbuq shalat subuh ?

Dalam hal ini, yang menjadi perbedaan pendapat ulama adalah menentukan perhitungan rakaat makmum masbuq. Apakah rakaat yang ia kerjakan bersama imam, merupakan rakaat pertama, karena memang itulah rakaat pertama yang ia kerjakan, atau merupakan rakaat kedua, sesuai rakaat yang dikerjakan imam. Berikut ini adalah perbedaan pendapat ulama mengenai penentuan awal rakaat makmum masbuq yang penulis nukil dari Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah:

Pendapat pertama, menurut Abu Hanifah dan ulama Mazhab Hanbali, penghitungan rakaat makmum masbuq adalah sesuai dengan rakaat yang dikerjakan imam.

Misalnya ketika makmum masbuq mengikuti imam di saat imam mengerjakan rakaat kedua, maka ia harus mengikuti imam sesuai dengan apa yang dikerjakan, baik gerakan shalatnya ataupun bacaan shalatnya.

Lalu setelah imam salam, makmum harus berdiri lagi untuk mengqadha rakaat pertamanya yang tertinggal. Makmum masbuq ini harus membaca doa iftitah, berta’awwudz, lalu membaca surah Al-Fatihah dan surah lainnya, sebagaimana yang seharusnya ia kerjakan pada rakaat pertama.

Pendapat ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw. yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim:

مَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَمَا فَاتَكُمْ فَاقْضُوْا

Baca Juga :  Inilah yang Harus Dilakukan saat Lupa Mengerjakan Rukun Shalat

“apa yang kalian dapati (dari rakaat shalat), maka shalatlah, dan (rakaat) yang tertinggal, maka qadha-lah (tunaikanlah).”

Pendapat kedua, menurut ulama mazhab Syafi’i, penghitungan awal rakaat shalat makmum adalah sesuai dengan apa yang ia kerjakan.

Oleh karenanya, rakaat yang dikerjakan makmum masbuq bersama imam adalah awal rakaat shalatnya. Sedangkan rakaat yang ia kerjakan setelah imam salam adalah rakaat akhir makmum.

Konsekuensi dari pendapat ini adalah ketika makmum datang terlambat dalam jamaah shalat subuh, sedangkan imam sedang mengerjakan rakaat kedua, lalu ia membaca doa qunut bersama imam, maka setelah imam salam makmum harus menyempurnakan rakaat shalatnya dan mengulang membaca doa qunut.

Pendapat ini juga berdasarkan sabda Rasulullah Saw. yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim:

مَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا

“apa yang kalian dapati (dari rakaat shalat), maka shalatlah, dan (rakaat) yang tertinggal, maka sempurnakanlah.”

Terkait perbedaan riwayat ini, Al-Baihaqi mengatakan bahwa riwayat yang dijadikan dalil oleh ulama mazhab Syafi’i adalah riwayat yang lebih banyak dan tingkat kehafalan perawinya lebih tinggi daripada riwayat yang dijadikan dalil oleh Abu Hanifah dan ulama mazhab Hanbali.

Karena mayoritas pendapat yang dipakai oleh masyarakat Muslim di Indonesia adalah pendapat mazhab Syafi’i, ditambah argumen yang digunakan ulama mazhab Syafi’i dalam persoalan penentuan awal rakaat imam lebih kuat dibanding pendapat Abu Hanifah dan ulama mazhab Hanbali, maka hendaknya kita mengikuti pendapat mazhab Syafi’i. Artinya, ketika ketika baru mengerjakan shalat subuh berjamaah ketika imam sedang mengerjakan rakaat kedua, maka setelah imam salam, kita harus berdiri untuk menyempurnakan rakaat kedua, lalu mengulang membaca doa qunut.

Wallahu a’lam bisshawwab

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here