Hari Terbaik Puasa Rajab Menurut Mbah Maimun Zubair

2
6629

BincangSyariah.Com – Mendiang mbah Maimun Zubair, ulama kharismatik asal Sarang, Rembang, Jawa Tengah yang baru saja wafat beberapa bulan lalu saat melaksanakan ibadah haji di Mekkah, pernah menjelaskan tentang keutamaan puasa rajab. Menurut beliau, seperti dalam potongan video yang diunggah oleh akun Instagram Pondok Pesantren Al-Anwar, pesantren yang diasuh oleh mendiang mbah Maimun.

Mbah Moen menjelaskan, bahwa hari terbaik puasa rajab itu yang baik dilaksanakan selama sepuluh hari di bulan pertama bulan rajab. Namun, jika tidak kuat, boleh dikurangi hanya tanggal 1 dan 10 atau tanggal 10 saja. Boleh juga jika hanya dilakukan di tanggal 10 saja

Dalam ceramahnya, Mbah Moen menjelaskan bahwa hikmah dianjurkannya untuk melaksanakan puasa di tanggal 10 bulan Rajab tersebut adalah karena di malam jumat 10 rajab, dikisahkan dalam sejarah bahwa ayah dan ibu Nabi Muhammad Saw., Abdullah dan Aminah, malam pertamanya di hari tersebut. Sehingga, di malam tersebut, ditiupkanlah Nur Muhammad ke rahim ibunda Aminah sehingga dilahirkanlah kelak Nabi Muhammad Saw. kelak di bulan Rabiul Awal.

Selain itu, bulan Rajab sendiri memang diantara bulan-bulan mulia yang sudah ada sejak masa sebelum Islam. Kemudian, kemuliaan bulan ini dikuatkan kembali dengan diabsahkan dalam ajaran Islam sebagai bulan-bulan yang tidak diperbolehkan melakukan perang di masa itu, atau disebut Asyhuru al-Hurum. Selain itu, oleh ajaran Islam ditambah lagi bulan-bulan yang dimuliakan tersebut yaitu Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal selain bulan Rajab, Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Wallahu A’lam 

View this post on Instagram

• • • Rajab itu bulan yang mulia, bukan karena rajaban. Masih banyak orang yang salah faham mengira bahwa kemuliaannya itu karena rajaban (Isro’ Mi’raj), Bukan! Akan tetapi mulianya Rajab itu karena Rajab itu termasuk bulan yang dimuliakan Allah. Sebelum ada Umatnya Nabi SAW, Bulan-Bulan Mulia (Al-Asyhur Al-Hurum) itu hanya ada 4 bulan saja, yaitu : “Rejeb (Rajab), Selo (Dzulqo’dah), Besar (Dzulhijjah) dan Suro (Muharram)”. Jadi, Rajab dijadikan sebagai bulannya orang untuk beribadah, sementara Dzulqo’dah dan Dzulhijjah dipakai untuk ibadah haji. Setelah Nabi Muhammad SAW diutus, 4 bulan mulia itu dirangkai (berurutan) menjadi 7 bulan, yaitu : “Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Poso (Ramadan), Syawwal, Selo (Dzulqo’dah), Besar (Dzulhijjah) dan Suro (Muharram)”. Masa waktu 7 bulan itu sama dengan masa Nabi Muhammad dikandung karena Nabi awal dikandung ibunya itu terjadi pada bulan Rajab, lalu Ruwah, Poso, Syawwal, Selo, Besar, Suro, Sapar (Shofar), Mulud (Rabi’ul Awwal) sehingga kalau ditotal menjadi 9 bulan. Makanya, kita menganut kepada Nabi SAW dalam hal bulan yang kita muliakan itu sudah termasuk menganut kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi SAW dikandung itu dimulai pada bulan Rajab. Oleh karena itu, pada bulan Rajab kita disunnahkan untuk puasa. #ppalanwarsarang #santrisarang #santripesisir #santriindonesia #santri #mediappalanwar

A post shared by PP. Al-Anwar Sarang (@ppalanwarsarang) on

Baca Juga :  Dalil Anjuran Mengangkat Kedua Tangan Ketika Hendak Berdiri dari Duduk Istirahah

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Pada bulan Rajab, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah, di antaranya dengan berpuasa dan melakukan banyak shalat sunnah mutlak. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebutkan sebuah riwayat bahwa di antara shalat sunnah mutlak yang dianjurkan adalah shalat sunnah mutlak pada malam Kamis pertama bulan Rajab. (Baca: Hari Terbaik Puasa Rajab Menurut Mbah Maimun Zubair) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here