Hanya Ada Air untuk Minum, Bolehkah Bertayamum?

0
306

BincangSyariah.Com – Semenjak kemunculan film “5 Cm” pada tahun 2012 yang diadaptasi dari sebuah novel, fenomena mendaki gunung kian mencuat. Kegiatan ini akhirnya begitu digandrungi oleh kawula muda untuk mengisi liburannya. Baik dari kalangan pemula maupun yang sudah ahli. Akhirnya semakin banyak jalur pendakian yang dibuka dan semakin ramai pula pendaki yang hendak mendaki di berbagai gunung di Indonesia.

Sebagai umat muslim kita diwajibkan untuk menunaikan ibadah salat di manapun berada. Sekalipun itu di puncak gunung selama nyawa masih berada dalam raga. Saat kita berada di puncak gunung atau perjalanan di pendakian menuju puncak tentu melaksanakan salat lebih sulit daripada biasanya. Terutama untuk berwudu sebelum melaksanakan salat.
Maka bagaimana cara berwudu sebelum salat sedangkan sangat sulit ditemukannya air di setiap tempat?

Bolehkah menggunakan air untuk minum menjadi air untuk berwudu? sedangkan seperti yang kita ketahui bahwa setiap pendaki selalu membawa air yang sudah dipersiapkan hanya untuk kebutuhan minum.  Dalam kitab Fathul Muin Syarh Qurrotul ‘Ain Imam Ahmad Zainuddin Al-Malibari menjelaskan:

يحرم التطهّر بالمسبّل للشرب و كذا بما جهل حاله على الاوجه، و كذا حمل شيئ من المسبّل الى غير محلّه

Diharamkan bersuci dengan air yang disiapkan untuk minum, begitu juga diharamkan bersuci dengan air yang tidak diketahui (kepemilikannya) menurut pendapat yang paling benar. Begitu juga haram untuk memindahkannya dari tempat semula.

Dilihat dari penjelasan Imam Ahmad Zainuddin Al-Malibari bahwa berwudu menggunakan air yang disiapkan untuk minum seperti yang biasa dibawa oleh setiap pendaki tidaklah diperbolehkan. Apalagi sumber air belum tentu tersedia di setiap pos yang jarak setiap pos lumayan jauh. Jadi berwudu sebelum salat bisa diganti dengan bertayamum.

Baca Juga :  Benarkah Berulangnya Maksiat Melemahkan Hasrat Kebaikan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here