Hal yang Masuk ke Lambung, tapi Tak Membatalkan Puasa

0
594

BincangSyariah.Com – Bulan Ramahan adalah bulan puasa bagi umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Mereka harus menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari. Salah satu perkara yang membatalkan puasa adalah masuknya sesuatu ke dalam lubang yang menjurus ke lambung perut dengan sengaja.

Namun, tulisan ini justru akan memaparkan hal-hal yang sampai ke dalam lambung, tapi tidak membatalkan puasa. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh dari Imam Zakariya al Anshari di dalam kitab Attahrir di dalam satu bab khusus dengan judul “Babu ma Washala ilal Jauf wa La Yufthir” atau bab sesuatu yang sampai ke dalam lambung perut dan tidak membatalkan puasa.”

Apa sajakah perkara yang tidak membatalkan puasa itu padahal telah sampai ke dalam lambung?

Pertama, sesuatu yang sampai ke lambung disebabkan lupa, tidak tahu (yakni seperti orang yang baru masuk Islam, atau orang yang hidupnya jauh dari ulama’ atau orang yang mendakwahkan ajaran hukum Islam) atau karena dipaksa. Dasar tidak batalnya puasa mereka adalah sabda Nabi Saw. di dalam hadisnya

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Siapa lupa di saat berpuasa makan atau minum maka hendaknya ia sempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allahlah yang memberikan ia makan dan minum.” (Muttafaqun Alaih).

Meskipun secara spesifik dasar tersebut khusus untuk orang yang lupa makan dan minum saat puasa, namun para ulama juga meng-qiyas-kan bagi orang yang tidak tahu dan dipaksa, karena sama-sama adanya uzur bagi mereka.

Kedua, mengalirnya ludah yang bercampur dengan semisal makanan yang ada di sela-sela giginya dan ia tidak mampu untuk melepeh/meludahnya karena zur (sulit). Berbeda halnya jika ia mampu untuk meludahkannya, maka puasanya batal karena kecerobohannya.

Baca Juga :  Apakah Menggunakan Obat Tetes Mata Membatalkan Puasa?

Imam Al Syarqawi memberikan penjelasannya bahwa contoh dalam masalah ini adalah misalnya ada orang yang meminum kopi sebelum shubuh, dan ternyata masih ada sisa bekas rasa kopi di dalam mulutnya setelah shubuh yang bercampur dengan ludahnya, lalu ia menelannya padahal ia mampu meludahkannya maka puasanya batal.

Tetapi jika ia tidak mampu meludahkannya, maka puasanya tidak batal. Begitupula dengan ludah yang bercampur dengan dahak, jika ia mampu meludahkannya maka batal puasanya jika sampai menelannya, tetapi jika ia tidak mampu, maka tidak batal puasanya.

Ketiga, masuknya debu jalanan, bahkan seandainya ia membuka mulutnya dengan sengaja, sehingga sampailah debu tersebut de dalam lambungnya. Maka menurut pendapat yang shahih puasanya tidak batal.

Keempat, masuknya ayakan tepung, lalat yang terbang atau lainnya semisal nyamuk. Karena sulitnya menghindari hal tersebut. Imam as Syarqawi dalam hal ini memberikan syarh bahwa meskipun mulutnya dibuka dengan sengaja agar masuk lalat tersebut, maka tidak membahayakan puasanya.

Namun, jika lalat itu kemudian membahayakan lambungnya, lalu ia berusaha mengeluarkannya maka batal puasanya dan ia wajib mengqadha’ puasanya sebagaimana pendapat imam Ibnu Hajar. Demikianlah hal-hal yang masuk ke dalam lambung, tetapi tidak sampai membatalkan puasa.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here