Hal-Hal yang Disunahkan Saat Azan (Bagian I)

0
3169

BincangSyariah.Com – Azan merupakan seruan yang menandakan bahwa telah masuk waktunya salat. Berikut adalah hal-hal yang disunahkan ketika mengumandangkan azan.

Pertama. Hendaknya muazzin (orang yang mengumandangkan azan) menghadap ke arah kiblat. Hal ini dikarenakan qiblat adalah arah yang paling mulia menurut kesepakatan ulama.

Kedua. Hendaknya muazzin dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar. Oleh karena itu, makruh mengumandangkan azan bagi orang yang memiliki hadas. Sedangkan azannya orang yang memiliki hadas karena junub berhukum sangat makruh. Rasulullah saw. bersabda:

كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ أَوْ قَالَ: عَلَى طَهَارَةٍ. رواه ابو داود.

Aku tidak suka menyebut nama Allah yang Maha Luhur dan Maha Agung kecuali dalam keadaan suci. Atau (rawi) berkata suci. (HR. Abu Daud).

Ketiga. Hendaknya muazzin berdiri ketika mengumandangkan azan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw.

يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ. رواه البخاري.

Wahai Bilal, berdirilah, lalu panggilah salat (azanlah). (HR. Al-Bukhari).

Keempat. Kepala dengan lehernya (tidak dengan dadanya) menoleh ke arah kanan ketika mengucapkan lafal “Hayya Alas Salah.” Dan menoleh ke kiri ketika mengucapkan lafal “Hayya Alal Falah.” Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Juhaifah r.a., ia berkata

رَأَيْتُ بِلَالاً يُؤَذِّنُ وَأَتَتَبَّعُ فَاهُ هَاهُنَا وَهَاهُنَا وَإِصْبَعَاهُ فِي أُذُنَيْهِ رَوَاهُ أَحْمَدُ وَاَلتِّرْمِذِيُّ

Aku melihat Bilal azan dan aku memperhatikan mulutnya yang kesini dan kesini, sementara kedua telunjuk jarinya berada di kedua telinganya. (HR. Ahmad dan At-Timidzi). Sementara di dalam Sunan Abi Daud terdapat riwayat lain sebagai penjelas dari hadis tersebut, yakni

رَأَيْتُ بِلَالًا خَرَجَ إِلَى الْأَبْطَحِ فَأَذَّنَ فَلَمَّا بَلَغَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، لَوَى عُنُقَهُ يَمِينًا وَشِمَالًا.

Baca Juga :  Manfaat Membaca Istighfar pada Bulan Sya'ban

Aku (Abu Juhaifah) melihat Bilal keluar ke atap lalu ia mengumandangkan azan, ketika sampai hayya alas salah hayya alal falah, lehernya menoleh ke kanan dan kiri. (HR, Abu Daud).

Kelima. Hendaknya muazzin pelan-pelan dalam mengumandangkan azan. Hal ini disebabkan azan merupakan seruan untuk orang-orang yang belum hadir.

Keenam. Tarji’, yaitu hendaknya muazzin membaca dua kalimat syahadat dengan pelan sebelum mengumandangkannya dengan suara yang keras. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Mahdzurah r.a. yang diajari Nabi saw. lafal azan dengan diawali lafal takbir dan syahadat, lalu ia berkata

ثُمَّ يَعُودُ فَيَقُولُ – أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Kemudian Nabi saw. mengulanginya, lalu beliau bersabda, Asyhadu An Laa Ilaaha Illa Allah. (HR. Muslim). (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here