Hal-Hal yang Disunahkan Saat Azan (Bagian II)

0
696

BincangSyariah.Com – Ketujuh. Membaca tatswib ketika azan salat Shubuh. Yakni setelah muazzin membaca hayya alal falaah, ia membaca Assalaatu Khaitun Minan Naum dua kali. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Abu Mahdzurah yang meminta diajari Nabi saw. lafal adzan, salah satu ajaran beliau adalah

فَإِنْ كَانَ صَلاَةُ الصُّبْحِ قُلْتَ: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Lalu, jika berada pada salat Shubuh, maka kamu mengucapkan “Assalaatu Khairun Minan Naum, Assalaatu Khairun Minan Naum”. (HR. Abu Daud)

Kedelapan. Hendaknya muazzin  bersuara lantang ketika azan. Hal ini disebabkan agar dapat menembus relung hati pendengar dan ia pun condong untuk memenuhi panggilan azan tersebut. Sebagaimana sabda Nabi saw. kepada Abdullah bin Zaid r.a. yang bermimpi mengumandangkan azan di dalam tidurnya.

فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ. رواه أبو داود.

“Berdirilah bersama Bilal, lalu ceritakan apa yang kamu mimpikan, kemudian ajarilah ia azan, karena sungguh dia suaranya lebih lantang daripada kamu.”  (HR. Abu Daud). Maksud dari “andaa sautan” dalam hadis tersebut adalah kuat dan bagusnya suara Bilal, sehingga Nabi saw. menunjuknya sebagai muazzinnya orang Islam.

Kesembilan. Hendaknya muazzin itu dikenal di kalangan masyarakat memiliki akhlak yang baik dan adil. Hal ini dikarenakan sifat tersebutlah yang pantas mengemban kabar tentang datangnya waktu salat. Sementara kabar yang dibawa oleh orang fasik itu tidak diterima.

Kesepuluh. Tidak memanjang-manjangkan (tidak lebay) ketika azan. Yakni hendaknya muazzin itu tidak memperlama dan melagu-lagukan azan. Bahkan hal ini bisa berhukum makruh. Memang di dalam azan dianjurkan untuk pelan-pelan dengan suara yang lantang dan bagus sebagaimana keterangan di atas. Tetapi, hendaknya muazzin tidak melampaui batas kewajaran, dengan memanjang-manjangkan dan melagu-lagukan azan.

Baca Juga :  Bolehkah Tunanetra Mengumandangkan Azan?

Kesebelas. Disunahkan ada dua muazzin di dalam masjid untuk azan fajar. Satu muazzin azan sebelum fajar. Dan muazzin lainnya azan untuk salat Shubuh. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw.

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى تَسْمَعُوا تَأْذِينَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ. رواه مسلم.

Sungguh Bilal azan di malam hari, maka makanlah dan minumlah sampai kalian mendengarkan azannya Ibnu Ummi Maktum. (HR. Muslim)

Keduabelas. Disunahkan diam bagi yang mendengar azan. Dan hendaknya ia mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muazzin. Dasarnya adalah riwayat Abi Said Al-Khudri, Nabi saw. bersabda

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ. رواه البخاري ومسلم.

 Jika kalian mendengar azan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muazzin. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Kecuali ketika muazzin mengucapkan Hayya Alas Shalah dan Hayya Alal Falah. Maka, kita hendaknya mengucapkan Lahaula Walaa Quwwata Illaa billah. Dasarnya adalah hadis riwayat Umar bin Khattab yang diajari Nabi saw. lafal azan beserta cara menjawabnya.

ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. رواه مسلم.

(Nabi saw. bersabda) kemudian muazzin berkata Hayya Alas Shalah, maka salahsatu dari kalian yang mendengar berkata Lahaula wala quwwata illa billah. Kemudian muazzin berkata Hayya Alal falah, maka salahsatu dari kalian yang mendengar berkata Lahaula wala quwwata illa billah. (HR. Muslim).

Penggalan hadis tersebut diakhiri dengan sabda Nabi saw. yang mengatakan bahwa siapa yang mengatakan (tekad) di dalam hatinya, maka ia akan masuk surga. Sementara ketika azan Shubuh, disunahkan membaca tatswiib. Yakni membaca shadaqta wa bararta wa ana alaa dzaalika minasy syaahidiin (Kamu benar dan benar. Dan saya terhadap hal itu termasuk orang-orang yang menyaksikan) ketika mendengarkan muazzin mengumandangkan lafal Assalaatu Khairun Minan Nauum.

Baca Juga :  Bolehkah Mengumandangkan Azan di Luar Waktu Shalat? Ini Penjelasannya

Ketigabelas. Membaca doa dan salawat kepada Nabi saw. setelah azan baik bagi muazzin maupun yang mendengar azan. Di antara bacaan doa dan salawat yang paling simpel diajarkan Nabi saw. dan dijamin oleh beliau akan mendapatkan syafaatnya bagi para pembacanya adalah

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ.

Allahumma rabba haadzhid da’watit taammah, wassalaatil qaaimah. Aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilah. Wab’atshu maqaaman mahmuudanilladzi wa’adtah.

Ya Allah Tuhan seruan yang sempurna ini, serta Tuhan rahmat yang tegak ini. Berikanlah kepada Muhammad sarana dan kelebihan. Tempatkanlah ia di tempat terpuji yang Engkau janjikan. (HR. Al-Bukhari)

Hendaknya pula bagi muazzin untuk melafalkan doa dan salawat Nabi saw. setelah azan itu dengan suara yang pelan. Hal ini dimaksudkan agar tidak dikira bagian dari lafal azan. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here