Haid Ketika Umrah, Bolehkah Tetap Melaksanakan Rukun-rukunnya?

0
553

BincangSyariah.Com – Terjadi haid ketika umrah, bolehkah tetap melaksanakan rukun-rukun umrah? Islam sebagai agama Rahmatan Lil al-‘Alamin, tidak pernah membuat susah pemeluknya dalam melaksanakan ibadah. Allah Swt menghendaki mudah kepada hamba-nya dalam melaksanakan apa pun yang diperintahkan. Oleh sebab itu, Allah Swt menekankan kepada manusia untuk melakukan sesuatu yang mampu dilakukan. Allah Swt berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani jiwa melebihi kemampuannya.” [QS. al-Baqarah: 286]

Dalam pembahasan yang telah lalu, sudah dijelaskan bahwa perempuan yang sedang mengalami haid boleh melakukan aktifitas yang berkaitan dengan umrah, hanya saja satu yang tidak diperbolehkan yaitu tawaf (Arab: thowaf). Ini dikarenakan suci dari hadats kecil maupun hadats besar adalah syarat sah melakukan tawaf. Sehingga ketika perempuan mengalami haid, ia tidak boleh melakukannya sampai menunggu masa suci tiba.

Lalu bagaimana solusinya bagi perempuan yang mengalami haid, namun masa sucinya tidak bisa dipastikan? Sementara waktu berada di Makkah tinggal beberapa minggu atau hari saja, dan belum tentu akan bisa kembali melaksanakan umrah.

Bagi perempuan yang mengalami hal demikian, ia diperbolehkan menggunakan pendapat Ibnu al-Qoyyim al-Jauziah yang berpendapat bahwa tawaf diperbolehkan dalam keadaan haid. Karena menurut beliau ketika seseorang diperintah melakukan ibadah dan tidak mampu melakukan persyaratan yang ada, maka syarat tersebut menjadi gugur. Selain alasan tersebut dalam kondisi ini juga disebut dengan dharurah (mendesak). Dalam hal ini Ibnu al-Qoyyim berpendapat boleh dan tidak menentang kaidah syariat, karena syarat akan gugur sebab tidak mampu dan tidak akan keharaman bagi orang yang tidak memenuhi persyaratan jika dalam kondisi dharurah.

Dalam Kitab Al-I’lam al-Muwaqqi’in (juz. 3 hal. 20), Ibn al-Qoyyim berkata;

Baca Juga :  Hukum Memakai Mukena Warna-Warni Atau Bermotif

ليس في هذا ما يخالف قواعد الشرع، بل يوافقها – كما تقدم -؛ إذ غايته سقوط الواجب، أو الشرط بالعجز عنه، ولا واجب في الشريعة مع عجز، ولا حرام مع ضرورة

“Dalam persoalan ini tidak ada yang menyalahi aturan Syari’at. Justru hal ini sejalan dengan aturan syariat, sebagaimana yang telah dijelaskan. Karena pada dasarnya kewajiban atau syarat akan gugur  ketika tidak mampu. Sehingga tidak ada kewajiban bagi orang yang tidak mampu dan tidak ada keharaman bagi orang yang mendesak (dharurah).” Demikian, Wallahu A’lam Bis as-Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here