“Hadis Puasa sebagai Perisai dari Godaan Setan” dalam Perspektif Ibnu Asyur

1
814

BincangSyariah.Com – Ibnu Asyur dikenal sebagai ulama yang merumuskan kembali teori-teori maqasid syariah yang dulu pernah digaungkan oleh al-Imam as-Syatibi dan Izzuddin bin Abdus Salam. Maqasid syariah merupakan salah satu pendekatan dalam memahami teks-teks agama yang selain menggunakan perangkat linguistik yang ditawarkan as-Syafi’i yang kemudian dilanjutkan oleh ulama usul lainnya juga menggunakan pemahaman terhadap maksud yang dituju oleh syariat.

Dalam hal ini pemahaman terhadap teks tidak lagi soal makna apa yang terkandung dalam sebuah kata, namun apa maksud di balik diproduksinya kata tersebut. Dalam bahasa linguistik modern, yang ditawarkan as-Syafi’i ini sejenis ilmu semantik (ilmu yang membahas makna kata lepas dari konteks) dalam linguistik sedangkan yang ditawarkan oleh as-Syatibi sejenis ilmu pragmatik (ilmu linguistik yang mengkaji kata berdasarkan konteks dan maksudnya). Secara sederhananya demikian. Namun namanya juga penyederhanaan, tentunya banyak aspek yang tidak terkemukakan.

Baiklah kita kembali lagi ke persoalan bagaimana Ibnu Asyur memahami hadis puasa sebagai perisai. Dalam sebuah hadis yang terkenal dikatakan bahwa puasa adalah perisai (as-shoumu junnatun). Para ulama, termasuk di antaranya Imam Nawawi dalam syarahnya terhadap Sahih Muslim menafsirkan bahwa yang dimaksud puasa sebagai perisai ialah karena puasa dapat mencegah pelakunya dan membentenginya dari rayuan-rayuan nafsu syaythani. Tafsir yang lain juga dikemukakan Imam Nawawi, yakni bahwa yang dimaksud puasa sebagai perisai ialah karena puasa dapat menjaga pelakunya dari siksaan neraka. Tafsir yang kedua ini dapat dikatakan bahwa junnah atau perisai ialah wiqayah min an-naar, melindungi diri dari siksa neraka.

Ibnu Asyur, tidak seperti Imam Nawawi dan ulama lainnya, memiliki tafsir yang unik terhadap kata junnah atau perisai ini. Barangkali yang muncul dalam benaknya ialah soal keumuman makna junnah/perisai. Dalam penafsiran an-Nawawi dan ulama lainnya, puasa sebagai perisai dibatasi sebagai benteng dari godaan dan rayuan ke arah keburukan dan maksiat atau sebagai penyelamat dari siksa api neraka. Namun Ibnu Asyur seperti yang dapat kita lihat dalam kitab Kasyful Mughatta minal Alfadhz al-Qaqi’ah fil Muawatha’ memiliki tafsir lain.

Baca Juga :  Hukum Tarawih 8 Rakaat dengan 2 kali Salam

Ibnu Asyur cenderung melepaskan kata junnah atau perisai dari ikatan-ikatan yang amat terbatas dan karena itu beliau menegaskan bahwa junnah tidak perlu dibatasi hanya kepada perisai dari godaan setan dan perisai dari neraka. Ini terlalu sempit. Ibnu Asyur dalam Kasyful Mughatta menegaskan demikian:

حذف متعلق (جنة) لقصد التعميم، أي التكثير للمتعلقات الصالحة بالمقام…فأفاد كلام الرسول عليه الصلاة والسلام أن الصوم وقاية من أضرار كثيرة. فكل ضر ثبت عندنا  أن الصوم يدفعه فهو مراد من المتعلق المحذوف…

“Alasan dihilangkannya batasan makna junnah (perisai) ialah agar makna tetap berlaku umum (ta’mim). Yang dimaksud berlaku umum ialah maknanya dapat merujuk kepada semua jenis aktitivitas berdasarkan konteksnya…sampai di sini, sabda nabi ini dapat ditafsirkan bahwa puasa merupakan perisai atau penghindar dari segala macam mudarat. Semua mudarat yang akan menimpa kita dapat dihilangkan atau ditolak dengan puasa. Inilah yang dimaksud dihilangkannya pembatasan makna junnah dalam redaksi hadis di atas .”

Ibnu Asyur cenderung memperluas makna junnah ini sebagai perisai dari segala macam mudarat dan tidak membatasinya sebagai sekedar perisai yang membentengi diri kita dari godaan setan dan siksa api neraka. Ini terlalu metafisis. Melalui pemaknaan yang luas terhadap makna junnah ini, dalam perspektif Ibnu Asyur puasa mungkin saja bisa ditafsirkan sebagai perisai yang dapat menghalangi berbagai macam jenis penyakit yang dapat membahayakan tubuh kita. Penelitian dalam dunia kedokteran menunjukkan betapa dengan puasa orang dapat mencapai hidup sehat.

Ini artinya, puasa juga dapat menjadi perisai bagi tubuh untuk menolak semua gangguan kesehatan yang dapat memudaratkannya. Inilah makna hadis as-shaumu junnatun. Pandangan Ibnu Asyur ini tentu sangat menarik. Mungkin karena perspektif yang maqasidinya inilah, beliau memperluas makna junnah yang tidak sekedar benteng atau perisai dari godaan nafsu dan perisai dari siksa neraka. Puasa ialah perisai untuk semua hal yang dapat memudaratkan kita baik secara fisik maupun secara spiritual.

Baca Juga :  Puasa Ramadan Sebagai Sarana Pencerahan Ruhani

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here