Fatwa MUI Soal Tata Cara Shalat Tenaga Medis Covid-19

1
1238

BincangSyariah.Com – Di tengah melonjaknya angka pasien yang positif virus corona, tenaga medis adalah garda terdepan yang berjuang. Untuk melaksanakan aktifitas perawatan terkait virus Covid-19, petugas medis diharuskan memakai Alat Pelindung Diri (APD). Masalahnya, lama jam tugas tenaga medis Covid-19 bisa sampai membuatnya melewati waktu shalat.

Dilansir dari CNN Indonesia berdasarkan ketentuan dari WHO, APD merupakan alat pelindung sekali pakai. Pemerintah DKI Jakarta mengatakan membutuhkan 1.000 unit APD setiap hari. APD biasanya terdiri dari kacamata, sarung tangan, dan jubah berbahan khusus. APD merupakan komponen terpenting di tengah gempuran virus corona, yang sayangnya ketersediaannya semakin langka di samping juga harganya yang mahal.

Dalam beberapa kasus, jam kerja petugas medis APD lengkap melewati jadwal waktu shalat. Sementara bagi seorang muslim selama memungkinkan tetap wajib melaksanakan shalat fardhu dengan segala kondisi yang ada.

Melihat kondisi ini, Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin meminta fatwa kepada MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang membahas tentang tata cara shalat bagi petugas medis yang menggunakan APD terkait Covid-19.

Dilansir dari website resmi MUI, setelah mendiskusikannya selama tiga hari akhirnya kemarin MUI mengeluarkan fatwa terkait hal ini. Selengkapnya, berikut ini ketentuan hukum yang tercakup dalam Fatwa MUI:

1. Tenaga kesehatan muslim yang bertugas merawat pasien COVID-19 dengan memakai APD tetap wajib melaksanakan shalat fardhu dengan berbagai kondisinya.

2. Dalam kondisi ketika jam kerjanya sudah selesai atau sebelum mulai kerja ia masih mendapati waktu shalat, maka  wajib melaksanakan shalat fardlu sebagaimana mestinya.

3.  Dalam kondisi ia bertugas mulai sebelum masuk waktu zhuhur atau maghrib dan berakhir masih berada di waktu shalat ashar atau isya’ maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’ ta’khir.

Baca Juga :  Tata Cara Shalat Hajat

4. Dalam kondisi ia bertugas mulai saat waktu zhuhur atau maghrib dan diperkirakan tidak dapat melaksanakan shalat ashar atau isya maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’ taqdim.

5. Dalam kondisi ketika jam kerjanya berada dalam rentang waktu dua shalat yang bisa dijamak (zhuhur dan ashar serta maghrib dan isya’), maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’.

6. Dalam kondisi ketika jam kerjanya berada dalam rentang waktu shalat dan ia memiliki wudlu maka ia boleh melaksanakan shalat dalam waktu yang ditentukan meski dengan tetap memakai APD yang ada.

7. Dalam kondisi sulit berwudlu, maka ia bertayamum kemudian melaksanakan shalat.

8. Dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci (wudlu atau tayamum) maka ia melaksanakan shalat boleh dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi (i’adah).

9.  Dalam kondisi APD yang dipakai terkena najis, dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan maka ia melaksanakan shalat boleh dalam kondisi tidak suci dan mengulangi shalat (i’adah) usai bertugas

10. Penanggung jawab bidang kesehatan wajib mengatur shift bagi tenaga kesehatan muslim yang bertugas dengan mempertimbangkan waktu shalat agar dapat menjalankan kewajiban ibadah dan menjaga keselamatan diri.

11. Tenaga kesehatan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman untuk melaksanakan shalat dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan diri.

1 KOMENTAR

  1. […] Cara pakai APD itu harus prosedural. Ribet banget cara pakainya. Contoh, sebelum pakai APD, harus semprot antiseptik, dan memastikan bahwa pakaian yang akan digunakan sudah steril mikroorganisme, seperti kuman, bakteri, jamur, dan sebagainya. APD itu disterilisasi dulu menggunakan autoclave, alat sterilisasi. Belum lagi APD yang ada di Indonesia jumlahnya sangat terbatas. (Baca: Fatwa MUI Soal Tata Cara Shalat Tenaga Medis Covid-19) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here