Fatwa Habib Salim bin Jindan tentang Salah Baca Al-Quran Saat Berdakwah

1
1111

BincangSyariah.Com – Habib Salim bin Jindan pernah ditanya tentang persoalan salah baca Al-Quran saat berdakwah. Fatwa tersebut dapat ditemukan dalam kitab al-Ilmam bi Ma’rifat al-Fataawi al-Ahkaam yang sudah disunting dan dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh Ibnu Kharish, Pimpinan Redaksi bincangsyariah.com.

Dalam buku kumpulan fatwa tersebut, Habib Salim mendapatkan pertanyaan soal bagaimana hukumnya orang yang salah baca Al-Quran saat berdakwah atau menyampaikan Al_Qur’an dalam ceramah-ceramah, namun ia melakukannya tidak sengaja, apakah berdosa?

Habib Salim bin Jindan menjawab bahwa seorang yang berdakwah atau menyampaikan Al-Qur’an saat ceramah, harus menjauhi kekeliruan dalam membaca Al-Qur’an dari segi apapun, baik dari segi keliru karena tidak sesuai dengan tata bahasa Arab (termasuk makharijul huruf bahasa Arabnya), ataupun keliru karena tidak sesuai dengan hukum-hukum tajwid (tata cara membaca Al-Qur’an), misal soal huruf panjang, huruf pendek, dan lain sebagainya. Dalilnya adalah keumuman firman Allah dalam surah al-Muzammil [73]: 4,

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلً

… wa rattili al-qur’aana tartiilaa

…dan bacalah Al-Qur’an secara tartil

Ayat ini memang dari segi sebab turunnya ayat (sabab an-nuzul), kisahnya ayat ini disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. Namun, perintah yang terkandung di dalamnya berlaku untuk semua umat Islam, yang maknanya adalah membaca Al-Qur’an secara perlahan dan yang paling penting adalah sesuai dengan hukum-hukum tajwidnya.

Karena itulah, menurut Habib Salim bin Jindan, jika seseorang sudah berusaha belajar membaca Al-Qur’an dengan baik, lalu menyampaikan salah satu ayat Al-Qur’an dalam satu kesempatan saat berdakwah atau memberi nasihat, lalu ada yang keliru namun tidak atas kesengajaan merubah baik lafaz maupun maknanya, maka ia tidak berdosa. Dasarnya adalah surah al-Ahzab [33]: 5,

Baca Juga :  Hukum Mengeja Al-Qur’an untuk Mempermudah Pengajaran

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ

… wa laysa ‘alaykum junaahun fiimaa akhtho’tum bihi wa lakin-maa ta’ammadat quluubukum…” 

… dan tidak ada dosa bagi kalian terkait apa yang kamu khilaf terhadapnya, tetapi (ada dosa) pada yang hati kalian memang (berniat) sengaja melakukannya…”

Adapun jika memang tidak berusaha untuk mempelajari hukum-hukum tajwid, lalu menyampaikan ayat Al-Qur’an tanpa belajar dahulu, maka ia mendapatkan dosa atas tindakannya. Karena itu, jika seseorang belum mengenal hukum tajwid, maka ia harus mempelajarinya terlebih dahulu agar mengetahui cara melafalkan ayat Al-Qur’an dengan baik.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here