Faedah Mengqadha Zikir yang Sering Dilakukan Menurut Imam Nawawi

0
430

BincangSyariah.Com – Banyak sekali ibadah sunnah yang dilakukan berulang setiap hari oleh Nabi Muhammad Saw. Meski begitu Rasul menyarankan agar umatnya beribadah menurut kadar kemampuan masing-masing. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah Ra

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit. (HR. Muslim)

Berdasarkan uraian Rasul dalam hadis di atas, maka hal yang paling penting dalam beribadah adalah jika ibadah tersebut terus dilakukan secara konsisten.

Terkait hadis tersebut, maka Imam Nawawi dalam kitab al-Azkar memberikan nasehat terkait interaksi seorang hamba dalam melaksanakan sunah-sunah Nabi.

Pertama, jangan meninggalkan satu sunnah pun melainkan pernah mengerjakannya walaupun hanya satu kali. Imam Nawawi berkata, “Ketahuilah selayaknya bagi siapa saja yang sampai kepadanya sesuatu dari amalan-amalan yang memiliki keutamaan (fadhail amal), untuk mengerjakannya walaupun hanya satu kali, agar ia termasuk orang yang mendapatkan keutamaan itu dan hendaknya tidak meninggalkan amalan itu secara mutlak. Sejalan dengan hadis, ”Jika aku memerintahkan kalian sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian,’ ,”

Kedua, jika Allah mengaruniakan kemampuan dalam mengerjakan sesuatu ketaatan dan Anda termasuk orang yang telah rajin melaksanakannya kemudian suatu hari terlewat atasmu ketaatan tersebut, maka berusahalah untuk mengerjakannya jika ketaatan tersebut termasuk yang bisa diqadha. Karena jika seorang hamba sering melewatkan ketaatan maka akan menjadi ringan untuknya dalam meninggalkan amal.

Baca Juga :  Jalan Terdekat Menuju Allah Menurut Ibn Atha’illah

Adapun faedah dalam mengqadha zikir agar seseorang tidak menggampangkan untuk meninggalkan amal. Karena itu selayaknya seseorang yang memiliki kebiasaan zikir pada waktu malam atau siang hari atau setelah shalat, atau pada suatu kondisi, kemudian ia terlewatkan darinya, hendaknya ia mengerjakannya jika memungkinkan dan jangan membiarkannya karena alasan sudah terlewatkan waktunya.

Sebab jika ia tidak mengqadhanya maka akan menjadi terasa ringan baginya pula untuk meninggalkannya pada waktu-waktu mendatang. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here