Etika Setelah Berbuka Puasa Menurut Imam Ghazali

1
365

BincangSyariah.Com – Orang yang berpuasa akan berjumpa dengan berbagai lezatnya makan dan minum setelah masuk waktu salat maghrib. Di saat azan maghrib dikumandangkan, disitulah orang yang berpuasa akan membatalkan puasanya. Momen berbuka yang merupakan temu kangen dengan kelezatan berbagai makanan dna minuman membuat orang lupa akan porsi makan dan minumnya. Sehingga bisa berakibat pada kekenyangan yang tak menentu, salat terasa berat dan rasa kantuk pun hadir. Tak sedikit pun terbesit akan amal puasanya, Allah menerimanya atau bahkan sebaliknya.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menuliskan sebuah etika yang seyogyanya menghiasi momen berbuka seseorang yang berpuasa. Beliau menuliskan sebagai berikut:

أن يكون قلبه بعد الإفطار معلقا مضطربا بين الخوف والرجاء إذ ليس يدري أيقبل صومه فهو من المقربين أو يرد عليه فهو من الممقوتين

Hendaklah hatinya merasa cemas antara khawatir dan berharap, karena ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga ia termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah, ataukah ditolak puasanya sehingga ia termasuk orang-orang yang tidak disukai oleh Allah 

Imam Ghazali berpesan agar orang yang berpuasa juga mengkhawatirkan hal ibadah puasa, sudahkan kita termasuk orang yang dekat dengan-Nya sebab puasa ini atau sebaliknya? Bisa saja orang yang berpuasa menjadi orang yang tak disukai-Nya, lantaran ia lengah akan kewajiban lainnya. Semisal orang yang berpuasa namun hanya bisa terbaring di sofa sembari menonton komedian. Tanpa menghiraukan wajibnya salat dengan alasan tidak kuat bergerak banyak atau lainnya.

Apalah arti seseorang menahan hawa dan nafsunya seharian jika ternyata Allah tidak menerima puasanya? Disinilah Imam Ghazali mengisyaratkan agar kita tidak hanya fokus pada menu makanan dan minuman semata di saat berbuka, melainkan juga merasakan kecemasan hati dan penuh harap kepada Allah agar menerima puasa ibadah puasanya.

Baca Juga :  Taubatlah Sebelum Meninggal, Ini Empat Syarat Taubat Diterima

Dalam kitabnya juga, Imam Ghazali mengingatkan kita untuk tidak memperbanyak makan ketika berbuka, mengisi perut dan mulut dengan tidak sewajarnya. Maka, apalah arti puasa jika saat berbuka itu sebuah ajang untuk mengganti apa yang hilang ketika waktu siang. Bahkan, justru ketika Ramadan makanan akan lebih beragam. Apa yang tidak dimakan di bulan-bulan selain Ramadan malah tersedia saat Ramadan. Padahal, maksud dan tujuan puasa ialah mengosongkan perut dan menghancurkan syahwat, supaya diri menjadi kuat untuk bertakwa.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here