Enam Mandi yang Disunahkan dalam Islam

1
1168

BincangSyariah.Com – Selain terdapat mandi wajib yang dapat menghilangkan hadas besar. Syariat Islam juga memberikan tuntunan mandi yang sunah dilakukan. Berikut adalah enam mandi yang disunahkan di dalam Islam.

Pertama. Mandi Jumat. Mandi di hari Jumat disunahkan bagi orang yang hendak menghadiri salat. Meskipun ia bukan termasuk orang yang wajib melaksanakan salat Jumat, seperti musafir, wanita dan anak kecil. Namun ada pula yang berpendapat bahwa kesunahan mandi Jumat ini berlaku untuk siapapun. Baik ia hendak menghadiri salat Jumat atau tidak.

Adapun dalil kesunahan mandi Jumat adalah hadis Nabi saw.

إذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْتي الجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ. رواه البخاري ومسلم

Jika salah satu dari kalian hendak mendatangi salat Jumat, maka mandilah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Perintah mandi di dalam hadis tersebut adalah menunjukkan pada kesunahan, bukan perintah wajib. Hal ini didasarkan pada hadis lain, bahwa Nabi saw. bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الجُمُعَةَ فَبِها ونِعْمَتْ، وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ. رواه الترمذي.

Siapa yang wudu di Hari Jumat, maka dengannya (cukup) dan sebaik-baiknya. Siapa yang yang mandi, maka mandi itu lebih utama. (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa hanya dengan wudu saja ketika akan salat Jumat itu cukup. Tetapi jika ia mandi, maka hal ini lebih utama, dan disunahkan. Mandi Jumat ini disunahkan untuk menghilangkan bau yang tidak sedap dari badan. Sementara ia akan berkumpul dengan orang banyak.

Kedua. Mandi di hari raya idulfitri dan iduladha. Baik bagi orang yang hendak menghadiri salat bersama atau tidak. Hal ini dikarenakan hari raya adalah hari berhias. Maka, disunahkan mandi di hari ini. Dasarnya adalah atsar sahabat Abdullah bin Umar

أن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما كانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الفِطْرِ، قَبْلَ أَنْ يَغْدُو إلى المُصَلَّى.

Bahwasannya Abdullah bin Umar r.a. selalu mandi di hari idulfitri sebelum berangkat ke tempat salat. (HR. Malik). Adapun kesunahan mandi di hari iduladha adalah dikiaskan dengan riwayat ini. Adapun waktunya adalah dimulai dari pertengahan malam hari raya.

Ketiga. Mandi ketika gerhana matahari dan bulan. Adapun dasar syariatnya adalah diqiyaskan dengan kesunahan mandi akan salat Jumat. Di mana umat Islam akan bertemu dengan orang banyak. Maka, ketika gerhana matahari dan bulan juga disunahkan mandi terlebih dahulu sebelum akan melaksanakan salat sunah gerhana matahari dan bulan. Adapun waktunya adalah ketika mulai terjadinya gerhana hingga selesai.

Keempat. Mandi akan melaksanakan salat Istisqa’ (salat meminta hujan). Disunahkan ketika hendak keluar melaksanakan salat istisqa’ mandi terlebih dahulu. Hal ini diqiyaskan/disamakan dengan mandi akan melaksanakan salat gerhana.

Kelima. Mandi setelah memandikan mayat. Disunahkan mandi bagi orang yang memandikan mayat. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi saw.

من غسل ميتاً فليغتسل. رواه أحمد.

“Siapa yang memandikan orang mati (mayat), maka hendaklah ia mandi.” (HR. Ahmad)

Keenam. Mandi-mandi yang berhubungan dengan ibadah haji. Yakni mandi ihram haji dan umrah, mandi masuk Makkah, mandi untuk wuquf di Arafah, mandi untuk melempar jumrah dan mandi untuk masuk ke Madinah. Terkait mandi sunah saat haji ini telah dibahas dalam pembahasan khusus. (klik di sini).

Demikianlah enam mandi yang disunahkan oleh syariat Islam. Yakni mandi Jumat, mandi di hari raya, mandi ketika akan melaksanakan salat gerhana matahari dan bulan, mandi ketika akan salat istisqa’, mandi setelah memandikan mayat, dan mandi-mandi ketika ibadah haji. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Baca Juga :  Tata Cara Mandi Wajib Setelah Suci dari Haid


BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here