Enam Hal yang Sunah Dilakukan saat I’tikaf

0
6397

BincangSyariah.Com –  I’tikaf merupakan ibadah yang bisa dilakukan kapan saja, dan lebih disunnahkan lagi pada 10 terakhir bulan Ramadhan. Namun i’tikaf bisa pula berubah menjadi wajib karena nazar. Selama i’tikaf umat Islam dianjurkan agar menjaga adab selama berada di dalam masjid sebab bagaimanapun masjid adalah tempat beribadah.

Wahbah Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu menjelaskan terdapat beberapa adab yang harus dijaga oleh orang yang sedang beri’tikaf, di antaranya;

Pertama, dianjurkan agar orang yang sedang i’tikaf memperbanyak ibadah shalat sunah baik malam atau siang, namun tidak perlu memaksanakn diri. Selain itu dianjurkan memperbanyak membaca Alquran, zikir dan shalawat. Di sela-sela kegiatan tersebut sunah pula menyertakan hati untuk merenungi kebesaran kuasa Allah dan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya.

Kedua, dianjurkan untuk puasa saat i’tikaf menurut mayoritas ulama kecuali mazhab Malikiyah yang memasukkan puasa sebagai syarat sah i’tikaf secara mutlak, dan hanafiyah dalam i’tikaf nazar saja.

Ketiga, dianjurkan melakukan i’tikaf di masjid Jami bagi Mazhab Malikiyah, sedang mazhab Syafi’iyah tidak mengharuskannya dan boleh di masjid manapun dimana didirikan shalat berjamaah lima waktu di dalamnya. Adapun yang paling utama melakukan i’tikaf di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsha.

Keempat, sunah melakukan i’tikaf pada bulan Ramadan apalagi pada 10 hari terakhir karena di dalamnya terdapat malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Kelima, sunah berdiam diri dengan niat i’tikaf pada malam Idul Fitri disambung dari 10 hari terakhir Ramadan. Karena terdapat sebuah hadis riwayat Ibnu Majah yang menyatakan bahwa barang siapa yang menghidupkan malam Idul Fitri maka hatinya tidak akan mati pada saat kebanyakan hati telah mati.

Baca Juga :  Tujuh Syarat Sah I'tikaf

Keenam, agar orang yang sedang i’tikaf menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat, dan pembicaraan yang tidak bermanfaat. Terlebih agar menghindar dari perselisihan, mencela, perkataan buruk, semua itu dilarang di waktu-waktu biasa apalagi di saat i’tikaf.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here