Enam Adab-adab Saat Berpuasa

1
1093

BincangSyariah.Com – Pada bab ketiga dalam kitab Maqashidus Shaum karya imam Izzuddin bin Abdis Salam, beliau memaparkan enam adab-adab berpuasa sebagaimana berikut.

Pertama. Menjaga Lisan dan anggota badan dari perbuatan-perbuatan menyimpang. Hal ini sebagaimana hadis Nabi saw.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. رواه البخاري.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang (berpuasa) tidak meninggalkan ucapan dan tindakan yang dusta (ketidak benaran), maka Allah tidak butuh pada puasanya.” (H.R. Al-Bukhari)

Berdasarkan hadis tersebut, maka puasa seseorang akan sia-sia jika ia tetap berkata atau melakukan hal-hal yang dilarang dan menyimpang. Bahkan disebutkan dalam hadis lainnya, Nabi saw. bersabda bahwa banyak sekali orang yang sia-sia puasanya, ia hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja.

Kedua. Jika dihidangkan makanan baginya, hendaknya berkata, “Aku sedang berpuasa.” Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ. رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw., beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian dipanggil untuk makan, sedangkan ia sedang berpuasa, maka hendaknya ia bekata, “Aku sedang berpuasa.” (H.R. Muslim)

Imam Izzuddin menjelaskan bahwa, ucapan “Saya sedang berpuasa.” itu untuk memperingatkan kepada yang mengajaknya makan dan agar hatinya tidak goyah. Namun jika ia khawatir dikatakan riya, maka ucapankanlah ada udzur lainnya.

Namun, dalam keterangan lainnya disebutkan bahwa jika ia berpuasa sunnah dan sedang bertamu, kemudian ditawari makan, ia boleh membatalkannya untuk menghormati yang tuan rumah. Tetapi, jika ia sedang berpuasa wajib, baik itu puasa Ramadhan, qadha’ puasa Ramadhan, atau puasa nadzar, maka ia tidak boleh membatalkan puasanya. Alias harus tegas mengatakan bahwa ia sedang berpuasa.

Ketiga. Berdoa ketika berbuka puasa. Adapun riwayat doa berbuka puasa yang dipaparkan oleh imam Izzuddin bin Abdissalam adalah sebagai berikut.

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ.

Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala, jika Allah menghendaki.

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أفْطَرتُ.

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berpuasa, dan atas rezeki-Mu aku berbuka.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الّذِيْ أَعَانَنِيْ فَصُمْتُ وَرَزَقَنِيْ فَأَفْطَرْتُ.

Segala puji bagi Allah yang telah menolongku, sehingga aku dapat berpuasa, dan yang telah memberikanku rezeki sehingga aku dapat berbuka.

Demikian ragam doa yang dapat kita ucapkan saat berbuka puasa. Kita pun dapat memanjatkan doa yang telah populer di kalangan kita atau doa apapun. Karena pada dasarnya bacaan doa itu tidak mengikat dan lebih kepada manifestasi rasa syukur atas karunia yang telah Allah swt. berikan.

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اٰمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berpuasa, hanya dengan-Mu aku beriman, dan atas rezeki-Mu aku berbuka dengan rahmat-Mu wahai dzat yang paling mengasihi di antara yang mengasihi.

Atau jika memungkinkan kita dapat membaca seluruh tersebut disertai dengan hajat-hajat kita.

Keempat. Berbuka dengan kurma basah, kurma kering, atau air. Hal ini berdasarkan pada hadis Nabi saw.

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلْيُفْطِرْ عَلَى التَّمْرِ فَإِنْ لَمْ يَجِدِ التَّمْرَ فَعَلَى الْمَاءِ فَإِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ. رواه ابو داود.

Dari Salman bin Amir, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah satu dari kalian berpuasa, maka hendaklah ia berbuka dengan kurma, jika ia tidak menemukan kurman, maka hendaklah ia berbuka dengan air. Karena sungguh air itu suci. (H.R. Abu Daud)

Pada dasarnya hadis ini menganjurkan kita untuk berbuka, minimal dengan air putih yang suci dan bersih untuk membatalkan puasa dan melegakan dahaga selama seharian.

Kelima dan keenam. Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Hal ini berdasarkan pada hadis Nabi saw.

عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً. رواه البخاري.

Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Sahurlah kalian, karena sungguh di dalam sahur itu ada keberkahan.” (H.R. Al-Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ أَحَبَّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا. رواه احمد.

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw,, beliau bersabda, “Allah azza wajalla berfirman, “Sunguh hamba-Ku yang lebih aku sukai adalah yang paling menyegerakan berbukanya.” (H.R. Ahmad).

Imam Izzuddin menerangkan bahwa faidah mengakhirkan sahur adalah agar dapat menguatkan tubuh untuk menjalankan puasa. Sehingga ketika badan kuat, maka banyak ketaatan-ketaatan yang dapat ia lakukan selama berpuasa. Bahkan di dalam salah satu hadis disebutkan bahwa jarak antara waktu sahur Rasulullah saw. dengan shalat (shubuh) beliau sekitar lima puluh ayat atau sekitar sepuluh atau lima belas menit.

Sedangkan faidah dari menyegerakan berbuka puasa adalah agar rasa lapar dan haus yang dirasakan berat baginya segera hilang. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here