BincangSyariah.Com – Di antara rukun yang wajib dilakukan saat melaksanakan salat adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Jika meninggalkan bacaan shalawat kepada Nabi Saw, maka salatnya tidak sah.

Salah satu dalil yang dijadikan hujah oleh para ulama terkait kewajiban membaca shalawat kepada Nabi Saw. adalah hadis riwayat Imam Tirmidzi dan Abu Daud dari Fadhalah bin Ubaid, bahwa suatu ketika Nabi Saw. mendengar ada orang berdoa pada saat tasyahud, namun dia tidak membaca tahiyat dan shalawat kepada Nabi Saw. Lalu Nabi Saw. berkata;

عَجِلَ هَذَا، إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ

“Orang ini terburu-buru, apabila kalian salat, mulailah dengan mengagungkan nama Allah (baca tahiyat), kemudian bershalawat kepada Nabi Saw, kemudian berdoa dengan doa apapun yang dia inginkan.”

Adapun paling sedikitnya shalawat yang harus dibaca saat tasyahud akhir adalah kalimat berikut;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ

(Allahumma shalli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad).

Sedangkan shalawat yang sangat dianjurkan untuk dibaca saat tasyahud akhir adalah shalawat kamilah atau ibrahimiyah berikut;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيمَ، وبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyidina muhammad, kama shallaita ‘ala sayyidina ibrahima wa ‘ala ali sayyidina ibrahim wa barik ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyidina muhammad, kama barakta ‘ala sayyidina ibrahima wa ‘ala ali sayyidina ibrahim fil ‘alamina innaka hamidum majid.

Baca Juga :  Berapa Jatah Maksimal Daging yang Boleh Diambil Orang yang Berkurban

Namun demikian, membaca shalawat saat tasyahud akhir harus sesuai dengan syarat sahnya. Jika tidak, maka bacaan shalawatnya tidak sah, dan jika bacaan shalawatnya tidak sah, maka salat secara keseluruhan tidak sah.

Dalam kitab Alfiqhul Manhaji disebutkan bahwa syarat sah membaca shalawat saat tasyahud akhir ada empat, yaitu;

Pertama, bacaan shalawat tersebut harus didengar oleh dirinya sendiri. Jika membaca shalawat namun dirinya sendiri tidak mendengar, maka bacaan shalawatnya tidak sah. Hal ini berlaku jika tidak ada halangan seperti tuli, hujan deras atau lainnya. Namun jika ada halangan seperti disebut di atas, maka tidak masalah bacaan shalawat tersebut tidak didengar dirinya sendiri.

Kedua, harus menggunakan kata “muhammad, rasul atau nabi” ketika bershalawat kepada Nabi Saw. Jika bershalawat dengan menyebut selain tiga kata tersebut, seperti Ahmad, Thoha, Yasin, Abul Qosim dan lain sebagainya, maka shalawatnya tidak sah.

Ketiga, harus dengan bahasa Arab.

Keempat, tertib dalam melafalkan kalimat shalawat dan juga tertib antara urutan bacaan tahiyat dan shalawat. Maka tidak sah jika shalawat kepada keluarga Nabi Saw. dibaca sebelum Nabi Saw., atau shalawat kepada Nabi Saw. dan keluarganya dibaca sebelum membaca tahiyat.

Keempat syarat di atas harus diperhatikan ketika membaca shalawat saat tasyahud akhir, karena jika bacaan shalawatnya tidak sah, maka salatnya juga tidak sah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here