Empat Penyebab Sulit Menjalankan Shalat Malam dan Tips Mengatasinya

2
24

BincangSyariah.Com – Sudah menjadi pengetahuan umum jika obat hati ada lima hal. Biasanya orang yang melakukan lima hal ini diberikan oleh Allah anugerah berupa tidak sulit menjalankan shalat malam. Artinya ia rajin menjalankannya.

Rumusan ini ada yang menganggap dirumuskan oleh Sunan Bonang. Tetapi ada pendapat bahwa rumusan ini sudah populer dan diambil dari khazanah ilmu tasawuf. Ibrahim al-Khawwash ialah sufi yang merumuskannya. Popularitas rumusan obat hati ini tercatat dalam beberapa khazanah kitab klasik seperti di kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran dan kitab Kifayat al-Atqiya’.

Kelima hal tersebut yaitu, pertama, membaca Al-Quran dan maknanya. Kedua, melaksanakan shalat malam. Ketiga, berkumpul dengan orang-orang saleh. Keempat, memperbanyak berpuasa. Kelima, memperpanjang dzikir malam. Rumusan ini bahkan sangat populer di Indonesia karena dilantunkan saat puji-pujian menjelang shalat wajib di banyak masjid dan dinyanyikan oleh vokalis sekaliber Opick.

Dari kelima aktivitas tersebut, salah satu yang sulit dijalankan ialah melaksanakan shalat dan dzikir malam (qiyam al-lail). Kebanyakan orang mengalami hambatan dan kesulitan bangun di malam hari untuk menjalankan qiyam al-lail (ibadah malam). Syekh Zainudin al-Malibari, kakek dari syekh Zainudin pengarang kitab Fathul Mu’in, menjelaskan dalam kitab Hidayat- al-Atqiya’ ila Thariq al-Auliya’ orang sulit menjalankan shalat malam itu karena empat penyebab.

Pertama, terlalu banyak memikirkan urusan dunia dan melalaikan urusan akhirat. Kedua, dalam setiap kesempatan, perbincangan seputar hal-hal duniawi menjadi topik utama. Ketiga, terlalu lelah dalam bekerja di siang hari. Keempat, terlalu berlebihan dalam makan. Keempat hal ini dapat menghalangi seorang muslim dalam menjalankan ibadah malam.

Penyebab-penyebab di atas memperlihatkan karakter dan sejarah kelahiran ilmu tasawuf. Sebagaimana diketahui, ilmu tasawuf memiliki karakter selalu menjadi rem hati dan pikiran manusia agar tidak terjebak pada urusan dunia an sich. Dua dimensi manusia, jasmani dan ruhani, harus seimbang, bahkan dalam beberapa pandangan sufi, dimensi ruhani-lah yang akan men-drive jasmani manusia. Termasuk dalam mendorong badan  untuk beribadah malam.

Kelahiran tasawuf sebagaimana dicatat Albert Hourani dalam a History of The Arab Peoples (2013) merupakan kritik sosial atas perilaku bermewah-mewahan dan berlebih-lebihan para penguasa dinasti Islam di masa lampau. Konsep zuhud, tawakkal, uzlah, dan term tasawuf lainnya lahir dari kondisi sosial semacam itu. Termasuk dalam soal penyebab kesulitan beribadah malam bagi seorang muslim. Bagi para ulama tasawuf hal tersebut disebabkan oleh kecenderungan dan dominasi keinginan duniawi dalam diri muslim.

Selain menjelaskan penyebab kesulitan dalam beribadah malam, syekh Zainudin al-Malibari menyebutkan empat tips agar dapat melaksanakan ibadah malam. Pertama, berwudhu setelah melaksanakan shalat isya’. Kedua, berdzikir dengan membaca tasbih dan menghadap kiblat di sore hari hingga terbenamnya matahari. Ketiga, beribadah di antara waktu maghrib dan isya’ seperti membaca Al-Quran atau shalat sunah. Keempat, tidak berbincang-bincang setiap setelah melaksanakan tiga tips di atas.

Akan tetapi, semua tips itu tidak akan dapat membantu kita lebih mudah untuk melaksanakan ibadah malam jika tanpa adanya taufiq (pertolongan) dari Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menyebutkan bahwa aspek pertolongan Allah juga menentukan. Oleh karenanya, selain menjauhi penyebab sulitnya beribadah malam dan melaksanakan kiat yang membantu untuk beribadah malam, berharap dan berdoa kepada Allah agar kita tetap diberikan iman dan taqwa kepada-Nya sangat penting diperhatikan.

Semoga kita semua diberikan kemudahan dan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah, amin…

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here