Empat Kondisi Diperbolehkan Mengulur Waktu Salat

0
799

BincangSyariah.Com – Salat pada waktunya merupakan salah satu syarat sahnya salat. Setiap salat memiliki awal dan akhir waktu yang berbeda. Sama halnya seperti ibadah haji, memiliki aturan waktu yang telah ditentukan. Jika ibadah haji tidak ada kemungkinan untuk mengundur waktunya, lantas bagaimana dengan salat? Dalam QS Al Ma’un ayat 4-5 disebutkan:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang saahuun (lalai) terhadap salatnya.

Ayat tersebut memperbincangkan seseorang yang lalai dari salatnya. Adakalanya karena tidak menunaikannya di awal waktunya, melainkan menangguhkannya sampai akhir waktunya secara terus-menerus, dan adakalanya karena dalam menunaikannya tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratannya sesuai dengan apa yang diperintahkan. Dan siapa pun orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti dia mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat tersebut. Termasuk orang yang sering mengundur waktu salat.

Namun dalam kitab Al Zubad, Syaikh Imam Ibnu Ruslan memaparkan bahwa diperbolehkan untuk menunda salat dalam kondisi-kondisi tertentu sebagai berikut:

لا عذر في تأخيرها إلا لنسيان أو نوم أو لجمع أو لإكراه

Boleh menunda salat sampai keluar waktu karena udzur sebagai berikut: lupa, tertidur, jamak ta’khir dan dipaksa .

Orang lupa, tertidur, jamak ta’khir, dan dipaksa adalah empat kondisi dimana salat boleh dikerjakan di akhir atau bahkan di luar waktu salat. Kondisi-kondisi tersebut diberikan keringanan dalam mengerjakan salat. Poin pentingnya adalah tetap melaksanakan kewajaiban salat.

Menurut jumhur ulama, ketika salat wajib terlalaikan karena unsur ketidaksengajaan, seperti ketiduran atau lupa, maka wajib qadha ketika seseorag tersebut sadar dan ingat akan kewajiban tersebut. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah:

Baca Juga :  Apakah Tersenyum Membatalkan Salat?

أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا

“Sebenarnya bukanlah kategori lalai jika karena tertidur. Lalai adalah bagi orang yang tidak salat sampai datang waktu salat lainnya. Barang siapa yang mengalami itu maka salatlah dia ketika dia sadar”.  (HR. Muslim)



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here