Dua Syarat yang Perlu Diperhatikan Ketika Melakukan Shalat Jamak Takhir

1
9217

BincangSyariah.Com – Ketika kita sedang melakukan perjalanan jauh, selain boleh melakukan qashar shalat, juga kita boleh melakukan jamak, baik jamak taqdim maupun jamak ta’khir. Ketika kita melakukan jamak takhir, baik antara zuhur dan ashar, atau Maghrib dan Isya’, maka ada dua syarat yang perlu kita diperhatikan agar jamak takhir tersebut dinilai sah.

Pertama, melakukan niat jamak takhir pada waktu shalat yang pertama. Sebelum waktu shalat pertama habis, kita wajib niat untuk melakukan jamak takhir pada waktu shalat kedua. Jika kita tidak melakukan niat jamak takhir pada waktu shalat pertama, maka shalat pertama yang dilakukan pada waktu shalat kedua disebut qadha’, bukan jamak takhir.

Misalnya, kita ingin melakukan shalat Dzuhur pada waktu Ashar dengan niat jamak takhir, maka pada waktu zuhur, kita wajib niat terlebih dahulu untuk melakukan jamak takhir. Jika kita tidak melakukan niat jamak ta’khir pada waktu Dzuhur dan kita shalat Dzuhur di waktu Ashar dengan niat jamak takhir, maka jamak takhir tersebut tidak sah. Ia disebut qadha’, bukan jamak takhir dan kita telah berdosa karena melaksanakan shalat Dzuhur bukan pada waktunya.

Kedua, ketika melaksanakan shalat jamak takhir, kita masih dalam perjalanan. Jika kita sudah sampai rumah atau tempat tinggal sebelum shalat jamak takhir selesai dilaksanakan, maka ia disebut qadha’, bukan jamak takhir.

Misalnya, kita berniat melakukan shalat Dzuhur di waktu Ashar dengan niat jamak ta’khir, namun sebelum shalat Dzuhur dilaksanakan kita sudah sampai rumah, maka ia tidak disebut jamak ta’khir. Akan tetepi sudah berubah menjadi qadha’ karena kita sudah bukan dalam perjalanan lagi yang menyebabkan kita boleh melakukan jamak ta’khir.

Baca Juga :  Berdoa dengan Bahasa Asing yang Tak Dipahami Maknanya, Bagaimana Hukumnya?

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

ويشترط لجمع التأخير شرطان فقط:الأول ـ نية التأخير قبل خروج وقت الصلاة الأولى، ولو بقدر ركعة: أي بزمن لو ابتدئت فيه، كانت أداء. وإلا فيعصي، وتكون قضاء… الثاني ـ دوام السفر إلى تمام الصلاة الثانية، فإن لم يدم إلى ذلك بأن أقام ولو في أثنائها، صارت الأولى (وهي الظهر أو المغرب) قضاء؛ لأنها تابعة للثانية في الأداء للعذر، وقد زال قبل تمامها

“Disyaratkan untuk jamak takhir dua syarat saja. Pertama, niat jamak ta’khir sebelum waktu shalat pertama habis, meskipun seukuran waktu satu rakaat saja Artinya, waktu di mana andaikan shalat tersebut dilaksanakan pada waktu tersebut, maka ia akan menjadi shalat ada’ (bukan shalat qadha). Jika tidak berniat pada waktu shalat pertama, maka ia berdosa dan shalat tersebut disebut qadha’. Kedua, masih dalam perjalan hingga shalat kedua selesai dilaksanakan. Jika seseorang sudah muqim pada saat menjalankan shalat kedua, meskipun muqim pada pertengahan shalat, maka shalat pertama menjadi qadha’ karena waktu pelaksanaan shalat pertama mengikuti pelaksanaan shalat kedua sebab adanya uzur dan ternyata uzur tersebut telah hilang sebelum shalat kedua selesai dilakasanakan.”

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here