Dua Kondisi Wajib Menghentikan Shalat

0
952

BincangSyariah.Com – Takbiratul ihrām merupakan tindakan yang menandai bahwa seseorang sudah masuk dalam prosesi ibadah shalat. Setelah melakukan takbiratul ihram, seseorang diharamkan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan shalat secara sengaja, seperti makan, minum, bicara, dan sebagainya.

Artinya, ketika sudah shalat, kemudian ia sengaja minum atau makan, dan ia mengetahui bahwa hal itu tidak boleh, maka selain shalatnya batal, ia pun berdosa karena sengaja membatalkan shalat, walaupun shalat sunah. Namun, menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqhul Islāmī wa Adillatuh, ada dua kondisi kita wajib menghentikan aktivitas shalat di tengah-tengah kondisi sedang shalat.

Pertama, menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan mendesak, seperti orang yang meminta tolong karena tercebur di dalam sumur, ada hewan buas yang akan memangsa, dan ada orang zalim yang akan menyakitinya. Sementara itu, orang yang sedang shalat itu memungkinkan membantu orang yang meminta pertolongan tersebut, seperti misalnya ia memiliki keahlian bela diri. Walaupun orang yang meminta tolong tersebut tidak meminta tolong secara langsung pada orang yang sedang shalat itu, namun orang yang sedang shalat itu mendengarnya, maka ia wajib ditolong.

Dalam mazhab Hanafi, menghentikan aktivitas shalat atas panggilan kedua orang tua itu tidak wajib bila kedua orang tersebut hanya memanggil tanpa meminta tolong hal yang mendesak yang membahayakan nyawanya.

Kedua, orang yang shalat itu menduga ada orang yang perlu ditolong. Bila pada kondisi pertama memang orang yang shalat itu mendengar langsung ada seseorang yang meminta tolong, dalam kondisi yang kedua ini ia hanya menduga kuat ada orang yang perlu ditolong. Selain itu, menghentikan aktivitas shalat untuk mencegah terjadinya kebakaran atau korban dimangsa hewan buas itu juga termasuk hal wajib.

Baca Juga :  Empat Syarat Meraih Predikat Haji Mabrur

Menurut Syekh Wahbah, menjaga nyawa dan harta dari kebinasaan dan kerusakan itu termasuk hal yang wajib. Selain itu, shalat masih bisa dilanjutkan di lain waktu, sementara nyawa atau harta yang sudah hilang itu tidak bisa kembali lagi. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here