Dua Kesunahan Saat Melaksanakan Salat

0
276

BincangSyariah.Com – Imam Abu Syuja’ dalam karyanya Fath al-Qarib, berkata bahwa sunnahnya saat melaksanakan salat itu ada dua, yaitu tasyahud awal dan membaca qunut saat Subuh dan salat Witir pada pertengahan kedua bulan Ramadan.

Kesunnahan pertama adalah tasyahud awal. Namun terjadi khilaf ulama mengenai hukum duduk tasyahud awal dalam salat lima kali sehari semalam selain salat Subuh. Dalam kitab Al Hawy Al Kabir, disebutkan Imam Syafi’i, Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa hukum tasyahud awal adalah sunnat. Sedangkan Al-Laits, Abu Tsur, Ahmad dan Ishaq mengatakan wajib. Adapun dalil tasyahud awal ini sunat adalah berdasarkan hadis Abdullah bin Buhainah riwayat Abu Daud yang berbunyi :

صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين ثم قام فلم يجلس فقام الناس معه فلما قضى صلاته وانتظرنا تسليمه كبر فسجد سجدتين وهو جالس قبل التسليم ثم سلم

Rasulullah saw salat dengan kami dua rakaat. Kemudian beliau berdiri dan tidak duduk. Orang-orang pun berdiri mengikuti beliau. Tatkala beliau menyelesaikan salatnya dan kami menunggu bacaan salam beliau, maka beliau bertakbir dan sujud dua kali dan beliau duduk sebelum salam dan kemudian baru melakukan salam (HR Abu Daud)

Dalam hadits tersebut Rasulullah meninggalkan tasyahud awal karena lupa, namun beliau tidak mengulanginya lagi, bahkan beliau melakukan sujud sahwi. Ini menunjukkan bahwa tasyahud awal tidak wajib. Karena kalau wajib, tentunya beliau tidak mencukupinya hanya dengan sujud sahwi, tetapi beliau mengulangi yang tertinggal sebagaimana dimaklumi dalam fiqh.

Dan kesunnahan kedua adalah membaca qunut saat Subuh dan salat Witir pada pertengahan kedua bulan Ramadan. Keterangan tersebut berdasarkan  hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik sebagai berikut:

Baca Juga :  Ini Lima Perbedaan Perempuan dan Laki-Laki dalam Shalat

مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

Rasulullah saw senantiasa berqunut di salat fajar (salat Subuh) sampai beliau meninggal dunia.” (HR. Ahmad)

Selain hadis tersebut, terdapat juga hadis di dalam sunah Abi Daud yang meriwayatkan tentang praktik sahabat Nabi yang melaksanakan qunut di dalam pertengahan akhir dari bulan Ramadan.

أن أبي بن كعب رضي الله عنه أمهم –يعني في رمضان- وكان يقنت في نصف الأخير من رمضان

Bahwasannya Ubay bin Ka’ab ra mengimami para shahabat yang lain, dan beliau qunut di setengah yang akhir dari bulan Ramadan.”

Keterangan tersebut senada dengan penjelasan Imam Nawawi dalam Al Adzkar. Beliau menyebutkan bahwa qunut di akhir Witir separuh akhir Ramadan adalah sunah, sebagaimana pendapat kalangan kami (Syafi’iyah) berpendapat. Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa disunnahkan qunut di seluruh salat sunnah. Ini menurut mazhab Abu Hanifah. Namun yang baik menurut mazhab kami adalah model yang pertama, yaitu qunut pada separuh akhir Ramadan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here