Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa

0
448

BincangSyariah.Com – Berpuasa tidak melulu tentang menahan lapar dan dahaga di siang hari, melainkan juga perihal terciptanya kebahagian yang tidak akan dirasakan oleh orang yang tidak menjalankan ibadah berpuasa. Kebahagian tersebut menyenangkan di dunia dan juga di akhirat kelak. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah saw.,

للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه

Bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan: yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan ketika berjumpa Rabbnya bahagia karena puasanya.” (HR. Bukhari Muslim)

Kebahagian pertama adalah ketika berbuka. Ada perasaan lega ketika kita bisa kuat menahan perihal yang dilarang saat puasa hingga waktu Magrib tiba. Di samping itu juga rasa syukur yang tak terhingga atas setiap karunia sajian untuk berbuka puasa. Belasan jam lamanya menahan makan dan minum, momentum buka puasa menjadi kebahagiaan tersendiri saat boleh kembali memenuhi kebutuhan perut dan sekitarnya. Di saat inilah terbit sebuah rasa bahagia pada hati seseorang yang berpuasa. Kebahagiaan tersebut juga hadir karena mampu menuntaskan perintah-Nya.

Kebahagiaan kedua adalah kebahagian secara ruhaniah, yakni ketika mampu berjumpa dengan Sang Penciptnya sebab puasanya. Kebahagiaan ini hanya akan dirasakan oleh mereka yang berpuasa secara total. Dalam arti, tidak hanya menahan diri dari perihal yang bisa membatalkan puasa secara fikih semata, melainkan juga menahan lisan dari perkataan jelek, perbuatan buruk, juga hati yang lalai dari-Nya.

Kebahagiaan kedua ini disebut dengan kebahagiaan yang hakiki, di mana seseorang bisa menghadap dan berjumpa dengan Tuhan tanpa ketakutan azab-Nya yang berat. Orang yang berpuasa dengan totalitas tinggi akan menjadi hamba yang saat bertemu dengan Allah, ia dalam keadaan bahagia, tidak sengsara. Sebab orang tersebut menghadap Allah dengan iman, Islam, ketaatan, dan hati yang selamat.

Baca Juga :  Tidurnya Orang Puasa Itu Ibadah, Hadis Atau Bukan?

Ibadah puasa berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, di mana puasa hanya bisa diketahui oleh orang yang berpuasa dan Tuhannya. Karena itu kebahagiaan ruhaniah ini terpicu dari kian dekatnya diri seorang Muslim dengan rida Allah Ta’ala. Inilah dimensi ibadah puasa yang sejati, lantaran mengubah seseorang agar kian bertakwa. Bahkan disebutkan dalam hadis qudsi bahwa puasa tersebut memang hanya untuk Allah.

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan  Aku yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung (HR Bukhari).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here