Dua Hal yang Membolehkan Salat Tidak Menghadap Kiblat

1
5018

BincangSyariah.Com – Diantara syarat sah salat adalah menghadap kiblat. Sama halnya rukun, salat seseorang tidak sah bila tidak memenuhi syarat. Perbedaan rukun dan syarat hanya pada letaknya; rukun berada di dalam salat sedangkan syarat diluar salat (sebelum salat). Sedangkan kedudukannya adalah sama; sama-sama bisa menyebabkan tidak sah salat seseorang. Allah berfirman:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Maka hadapkanlah wajahmu ke arah masjid yang mulia. Dan dimana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya (masjid yang mulia).”

Namun mushalli diperbolehkan tidak menghadap kiblat dalam dua hal. Syakh Abu Yujak berkata dalam kitab Ghayah al-Taqrib:

ويجوز ترك الاستقبال في حالتين، في شدّة الخوف وفي النافلة في السفر على الراحلة

Seseorang diperbolehkan tidak menghadap kiblat dalam dua hal. (1) Dalam keadaan sangat takut; (2) Salat sunah di atas kendaraan waktu bepergian.

Penjelasan yang dimaksud dalam keadaan sangat takut adalah apabila terjadi peperangan yang menyebabkan muslimin tidak punya kesempatan meninggalkan medan perang sama sekali dan apabila melaksanakan salat dikhawatirkan ditikam (diserang)  dari belakang. Rujukan diperbolehkannya tidak menghadap kiblat didasarkan firman Allah yang berbunyi,

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أو رُكْبَانًا

“Apabila kamu takut, boleh kamu lakukan shalat dengan berjalan atau naik kendaraan.”

Dalam kitab Fathol Qorib, Syah Ibn Qasim al-Ghazi berkata:

فِي قِتَالٍ مُبَاحٍ فَرْضًا كَانَتِ الصَّلَاةُ اَوْ نَفْلًا

“Di peperangan yang mubah. Baik salat fardu atau salat sunah”

Jadi, yang diperbolehkan tidak menghadap kiblat dalam perang yang diperbolehkan agama seperti memerangi orang-orang kafir, atau saat memerangi pemberontak. Meskipun ia salat fardu (apalagi salat sunah). Sedangkan pemberontak tidak boleh meninggalkan menghadap kiblat.

Baca Juga :  Hukum Melantunkan Tarhim Sebelum Adzan Shalat Subuh

Salat sunah yang dikerjakan di atas kendaraan juga diperbolehlan tidak menghadap kiblat. Namun disyariatkan menghadap kiblat ketika melakukan takbiratul ihram. Artinya, apabila kendaraan berbelok arah dan menyebabkan musholli tidak menghadap kiblat, salatnya tetap sah. Disebutkan dalam kitab Kifayatul Ahyar, dalil keharusan menghadap kiblat pada takbiratul ihram yaitu, Rasulullah Saw. apabila sedang bepergian dan bermaksud mengerjakan salat sunah, beliau menghadap kiblat bersama untanya lalu bertakbir. Setelah itu salatnya menurut arah yang dihadapi unta.

Hal senada juga tertulis dalam kitab Ibanah al-Ahkam karya Assayyid Alawi bin Abbas al-Maliki:

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ زَادَ اَلْبُخَارِيُّ ( يُومِئُ بِرَأْسِهِ وَلَمْ يَكُنْ يَصْنَعُهُ فِي اَلْمَكْتُوبَةِ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ : مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ : ( كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اِسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ اَلْقِبْلَةِ فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَجْهَ رِكَابِهِ ) وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

‘Amir Ibnu Rabi’ah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. Muttafaq Alaihi. Bukhari menambahkan: Beliau memberi isyarat dengan kepalanya namun beliau tidak melakukannya untuk sholat wajib.

Dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Anas Radliyallaahu ‘anhu : Apabila beliau bepergian kemudian ingin sholat sunat maka beliau menghadapkan unta kendaraannya ke arah kiblat. Beliau takbir kemudian sholat menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap. Sanadnya hasan.”

Lalu bagaimana tata cara salatnya?

Jenis kendaraan saat ini bermacam-macam. Ada yang memungkinkan berdiri, seperti naik kapal laut, ada juga yang tidak bisa bila salat dengan berdiri sepert naik sepeda motor (bila jadi sopir, disaran tidak salat di atas kendaraan. Sebab bisa mengganggu konsentrasi mengemudi). Jika naik kendaraan yang bisa salat sambil berdiri, diutamakan berdiri. Tata cara salatnya sama dengan salat seperti biasa. Namun bila kendaraan yang ditumpangi tidak memungkinkan berdiri, maka salatnya dikerjakan dengan cara duduk. Perlu diketahui bahwa salat sunah boleh dikerjakan dengan cara duduk sekalipun musholli mampu berdiri. Apalagi tidak mampu berdiri. Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni, beliau mengatakan,

Baca Juga :  Rutin Lakukan Shalat Sunnah Mutlak Ini, Dapat Keutamaan Bisa Berikan Syafaat untuk Sepuluh Orang Keluarga

لا نعلم خلافًا في إباحة التطوع جالسا، وأنه فى القيام أفضل، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم، من صلى قاىٕما فهو أفضل، ومن صلى قاعدا فله نصف أجرالقاىٕم

“Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang bolehnya shalat sunah sambil duduk. Hanya saja, berdiri lebih utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang shalat sambil berdiri, itu yang paling baik. Siapa yang shalat sambil duduk, dia mendapat pahala setengah dari pahala yang shalat berdiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun salat sunah yang bisa dikerjakan tidak hanya salat safar, salat tahajud, salat witir, salat dhuha dan lainnya juga bisa dikerjakan. Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang mengerjakan salat sunah witir di atas untanya

Hadist dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى فِى السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ ، حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ ، يُومِئُ إِيمَاءً ، صَلاَةَ اللَّيْلِ إِلاَّ الْفَرَائِضَ ، وَيُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat ketika safar di atas kendaraannya. Beliau menghadap sesuai arah kendaraannya. Beliau rukuk dan sujud dengan isyarat. Beliau melakukan shalat di atas kendaraan, untuk shalat malam, selain shalat wajib. Beliau juga melakukan witir di atas kendaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Ibnu Umar

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسبح على الراحلة قِبَلَ أي وجه توجه، ويوتر عليها، غير أنه لا يُصلي عليها المكتوبة

“Rasulullah pernah shalat di atas kendaraan dengan menghadap ke sembarang arah (tidak ke arah kiblat) dan Shalat witir di atas kendaraan. Hanya saja Nabi tidak pernah shalat fardhu di atas kendaraan.” (HR. Bukhari)

Baca Juga :  Anjuran Menyantuni Anak Yatim di Hari Raya Idulfiri

Berikut tata cara salat sambil duduk di atas kendaraan:

  1. Duduk sesuai posisi normal. Punggung disandarkan dan pandangan ke depan.
  2. Takbiratul ihran disertai niat (dalam posisi menghadap kiblat)
  3. Rukuk dengan sedikit menundukkan badan
  4. I’tidal, kembali ke possisi semus
  5. Sujud dengan menundukkan badan lebih rendah dari rukuk tadi
  6. Duduk diantara sujud, posisi seperti semula
  7. Sujud yang kedua seperti sujud yang pertama
  8. Duduk, posisi seperti semula
  9. Salam, menoleh ke kanan dan ke kiri

Wallahu a’lam

 

1 KOMENTAR

  1. Assalaamualaikum..akhie..bagaimana hukum menghadap qiblat yg sesungguhnya..sementara kita dalam kondisi aman dan ada perangkat GPS?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here