Diundang Buka Puasa Bersama yang Hartanya Berasal dari Uang Haram, Bolehkah?

0
731

BincangSyariah.Com – Bulan Ramadan merupakan bulan yang sakral bagi umat Islam. Indonesia sebagai penduduk Islam terbanyak di dunia memiliki beberapa tradisi selama Ramadan. Salah satu tradisi yang khas ialah buka puasa bersama.

Tradisi buka puasa bersama menjadi sarana berkumpul kembali bersama kawan sejawat, rekan kerja, atau keluarga besar.

Tentu buka bersama itu menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi. Maka, suatu keharusan juga untuk memenuhi untuk menghadiri undangan buka puasa bersama tersebut.

Persoalannya, bagaimana jika yang mengundang itu adalah orang yang penghasilannya berasal dari uang haram?

Dalam persoalan ini para ulama masih memiliki perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan boleh, namun dengan beberapa ketentuan. Dan ada sebagian ulama yang beranggapan bahwa harta yang didominasi dengan keharaman sebaiknya dihindari dan ditinggalkan saja.

Seseorang pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud r.a mengenai tetangganya yang memakan riba secara terang-terangan, namun tidak merasa bersalah dengan harta yang didapatkannya dengan cara yang buruk. Lalu tetangganya mengundangnya untuk makan. Ibnu Mas’ud berkata: “Penuhilah undangannya. Sesungguhnya kenikmatan (makanan) itu adalah milik kalian, sedangkan dosanya adalah terhadap orang itu.”

Dalam sebuah riwayat si penanya berkata: “Saya tidak mengetahui apa pun yang yang menjadi miliknya, kecuali hal yang buruk atau hal yang haram,” tetapi Ibnu Mas’ud tetap menjawab: “Penuhilah undangannya.”

Di beberapa hadis Rasulullah saw. menjelaskan bahwa beliau pernah memakan makanan dari orang-orang Yahudi dan melakukan transaksi dengan mereka, padahal dalam Alquran telah diuraikan bahwa orang-orang Yahudi memakan harta riba dan harta yang haram. Hadis-hadis tersebut sebagai berikut:

Hadis Anas bin Malik r.a beliau berkata:

“Sesungguhnya seorang perempuan Yahudi mendatangkan (daging) kambing yang telah diracuni kepada Nabi Muhammad sSaw. kemudian beliau tetap memakan daging itu…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga :  Doa Berbuka Puasa di Rumah Orang

Hadits Aisyah r.a beliau berkata:

“Rasulullah sSaw. meninggal, sementara baju besi beliau tergadai di sisi seorang Yahudi dengan harga tiga puluh sha’ jelay. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebenarnya tidak ada uang haram ataupun uang halal, namun halal dan haramnya sebuah uang tergantung pada perbuatan manusianya bukan pada uangnya. Maksud uang haram dalam Islam itu adalah uang yang didapat melalui jalan yang tidak halal atau cara mendapatkannya dilarang dalam Islam.

Uang menjadi haram karena dari hasil perbuatan yang melanggar larangan agama, maka haramnya bersifat li ghairi (karena perbuatan) bukan li zatihi (karena zatnya).

Harta Haram Menurut Pandangan Islam

Harta haram dibagi menjadi dua, yaitu harta haram karena pekerjaan atau cara mendapatkannya, dan harta haram karena zatnya.

Maksud harta haram karena sifat atau zatnya adalah makanan haram menurut Islam seperti daging babi, daging anjing, hewan yang disembelih atas nama selain Allah dan binatang haram dalam Islam yang jelas-jelas dilarang untuk dikonsumsi.

Harta haram karena pekerjaan atau cara mendapatkannya. Maksudnya adalah, harta tersebut haram karena cara mendapatkannya dengan cara yang tidak halal. Misalnya, seseorang mendapatkan harta melalui perjudian, harta riba dari bunga bank menurut Islam, harta hasil menipu, mencuri, dan lain-lain. Harta jenis ini sangat diharamkan dalam Islam. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim yang baik harus wara (berhati-hati) serta menghindarkan diri dari makanan atau harta yang mengandung hal-hal syubhat (kesamaran tentang kehalalan atau keharaman dari sesuatu) yang berasal dari pekerjaan kotor (tidak halal).

Jadi, dapat disimpulkan dari beberapa pendapat di atas mengenai hukum memenuhi undangan berbuka puasa bersama dengan uang haram adalah tidak boleh. Jika diketahui asal-usul dari mana dan bagaimana uang untuk membeli menu berbuka puasa itu didapatkan lebih baik ditolak secara baik-baik. Namun boleh, jika kita tidak mengetahui sama sekali dari mana dan bagaimana uang tersebut didapatkan.

Baca Juga :  Anjuran Dan Keutamaan Berbagi Takjil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here