Distribusi Pembagian Daging Terbaik Menurut Para Ulama

0
566

BincangSyariah.Com – Berkurban merupakan ibadah sunnah muakkad yang dijalankan sesudah sholat ied pada hari raya iedul adha yang hikmahnya banyak sekali. Selain sebagai bentuk ketakwaan dan penghambaan kita kepada Allah SWT, berkurban juga merupakan bentuk solidaritas kita kepada sesama mukmin, lebih-lebih kepada mereka yang membutuhkan.

Menariknya, dalam berkurban, yang bisa mendapatkan manfaat dari daging kurban tersebut bukan hanya mereka yang fakir saja, namun mereka yang berkecukupan pun diperbolehkan untuk menikmatinya. Sehingga momen idul adha sebagai hatri raya benar-benar bisa dinikmati oleh semua orang tanpa pandang golongan status sosial.

Bagi mereka yang bernadzar kurban atau kurban wajib, tentu saja tidak diperbolehkan bagi dia dan keluarganya untuk menikmati daging kurban tersebut. Berbeda dengan kurban sunnah. Hukum sunnah ini merupakan hukum dasar dalam berkurban.

Dalam kurban sunnah, seseorang yang berkurban disunnahkan untuk ikut memakan daging kurban sebagai bagian dari mengharap keberkahan. Dengan catatan, tetap ada bagian dari daging kurban tersebut yang didistribusikan untuk dibagikan pada orang lain.

Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha, dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syâfi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000, j. 1 h. 235) menyebutkan idealnya pembagian daging terbaik distribusinya adalah sebagai berikut:

وإن كانت الأَضحية مسنونة: جاز له أن يأكل قليلاً منها للبركة، ويتصدق بالباقي، وله أن يأكل ثلثها، ويتصدق بثلثها على الفقراء، ويهدي ثلثها لأصحابه وجيرانه وإن كانوا أغنياء.

“Bila kurbannya adalah sunnah, maka boleh bagi yang berkurban untuk memakannya sebagai bentuk mengharap keberkahan, dan bersedekah dengan sisanya. Idealnya, ia mengambil untuk dirinya dan keluarganya sebanyak sepertiga bagian, bersedekah dengan sepertiga bagian kepada fakir miskin, dan memberikan hadiah dengan sepertiga kepada tetangganya meskipun mereka berkecukupan.”

Dengan model distribusi semacam itu, yakni sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk fakir miskin dengan jalan sedekah, dan sepertiga untuk orang kaya dengan jalan hadiah, maka semua pihak akan bisa merasakan manfaat dan keberkahan dari daging kurban tersebut.

Baca Juga :  Menyikapi Tradisi Iuran Kurban di Sekolah, Apa Kata Hadis Nabi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here