Dilaksanakan di Waktu Siang, Mengapa Bacaan Shalat Id Dibaca Keras?

0
1208

BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa ketika shalat Idul Fitri atau Idul Adha dilaksanakan secara berjemaah, maka bacaan surah Al-Fatihah dan surah Al-Quran dibaca nyaring atau keras. Tentu ini berbeda dengan shalat-shalat sunnah lain yang dilaksanakan di waktu siang, hampir semuanya dibaca pelan meskipun dilaksanakan secara berjemaah. Adakah alasan mengapa bacaan shalat Id dibaca keras atau nyaring? (Baca: Panduan Lengkap Shalat dan Khutbah Idul Fitri di Rumah)

Shalat Idul Fitri atau Idul Adha termasuk jenis shalat sunnah yang disunnahkan untuk dilakukan secara berjemaah, dan disunnahkan pula untuk dibaca keras dan nyaring. Meskipun dilaksanakan di waktu siang, namun shalat ini sunnah di-jahr atau dinyaringkan bacaan surah Al-Fatihah dan Al-Qurannya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bujairimi ‘ala Al-Khatib berikut;

الخامسة الجهر بالقراءة في موضعه فيسن لغير المأموم أن يجهر بالقراءة في الصبح وأولتي العشاءين والجمعة والعيدين وخسوف القمر والاستسقاء والتراويح ووتر رمضان وركعتي الطواف ليلا أو وقت الصبح

Bagian kelima adalah membaca nyaring bacaan Al-Quran di tempatnya. Maka selain makmum, disunnahkan membaca nyaring bacaan Al-Quran dalam shalat Shubuh, dua rakaat awal shalat Isyak, shalat Jumat, shalat Idul Fitri dan Idul Adha, shalat gerhana bulan, shalat gerhana matahari, shalat istisqa’, shalat tarawih, shalat witir bulan Ramadhan, dan shalat Thawaf yang dilakukan di waktu malam atau waktu Shubuh.

Pada dasarnya, shalat sunnah yang dilaksanakan di waktu siang disunnahkan untuk dibaca pelan, sementara yang dilaksanakan di waktu malam disunnahkan dibaca keras atau nyaring. Namun khusus shalat Idul Fitri dan Idul Adha, keduanya disunnahkan dibaca keras karena banyak masyarakat yang hadir melaksanakan shalat Id. Agar mereka semua mendengar, maka disunnahkan untuk dibaca keras atau nyaring, sebagaimana shalat Jumat.

Baca Juga :  Ini Amalan yang Mudah Dilakukan, Tapi Berpahala Sebesar Gunung

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

يستجب الجهر بالنوافل ليلا مالم يشوش على مصل اخروالاسرار نهارا وانما جهر الجمعة والعيدين لحضور اهل البوادي والقرى كي يسمعوه ويتعظوا به

Dianjurkan mengeraskan suara dalam shalat-shalat sunnah yang dilaksanakan di waktu malam selama tidak mengganggu orang lain yang sedang shalat, dan disunnahkan dibaca pelan di waktu siang. Adapun shalat Jumat dan shalat Idul Fitri dan Idul Adha dibaca nyaring karena banyak masyarakat dari desa yang hadir, sehingga mereka bisa mendengar dan mengambil pelajaran semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here