Delapan Etika Saat Kencing dan Buang Air Besar

0
235

BincangSyariah.Com – Membersihkan diri setelah kecing dan buang air besar adalah wajib hukumnya. Peristiwa keluarnya urin dan kotoran itu terjadi setiap harinya. Karena itula penting untuk kita mengetahui etika ketika kencing dan buang air besar. Imam Abu Suja memaparkan delapan etikanya dalam Fathul Qarib. Beliau memaparkan sebagai berikut:

ويجتنب استقبال القبلة واستدبارها في الصحراء ويجتنب البول والغائط في الماء الراكد وتحت الشجرة المثمرة وفي الطريق والظل والثقب ولا يتكلم على البول ولا يستقبل الشمس والقمر ولا يستدبرهما

Hendaknya tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya apabila dalam tempat terbuka., kencing atau buang air besar hendaknya tidak dilakukan di air yang diam, di bawah pohon yang berbuah, di jalan, di tempat bernaung, di lobang. Dan hendaknya tidak berbicara saat kencing dan tidak menghadap matahari dan bulan dan tidak membelakangi keduanya. 

Etika yang pertama disebutnya adalah hendaknya tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya. Menurut Ibnu taimiah, poin ini berlaku ketika kita hendak kencing atau buang air besar di tenpat terbuka atau dalam bangunan. Namun berbeda pendapat dengan Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahamad. Mereka berpendapat bahwa anjuran tersebut hanya berlaku bagi mereka yang buang hajat di tempat terbuka.

Selanjutnya adalah tidak kencing atau buang air besar dalam air yang diam, bawah pohon yang sedang berbuah, di jalan, di tempat bernanung, dan juga di lubang. Yang demikian sebab mengganggu makluk lain dengan aroma tak sedapnya atau perihal lainnya. Seyogyanya kita buang hajat pada tempat yang tidak merugikan orang lain.

Diteruskan denga etika yang ketujuh adalah hendaknya tidak mengobrol saat kencing atau buang air besar. Disebutkan dalam Al Fiqh Al Manhaj Ala Madzhab Al Imam Asy Syafi’i bahwa hukum berbicara saat buang hajat adalah makruh. Senada dengan hadis riwayat Ibnu Umar:

Baca Juga :  Bolehkah Wudu Sebelum Istinja’?

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.

 Ada seseorang laki-laki yang lewat, sedangkan Rasulullah saw. sedang kencing, lalu ia mengucapkan salam pada beliau, namun beliau tidak menjawab salamnya. (HR Muslim) 

Etika yang terakhir adalah tidak menghadap dan membelakangi matahri. ulama Syafi’iyah menghukuminya ddengan makruh. Selagi bisa, sebaiknya tidak mengahadap atau membelakanginya. Sebab matahari adalah salah satu bukti keagungan Allah. namun jumur ulama membolehkannya, sebab tidak ada dalil yang meyatakan kemakruhannya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here