Dalil Kebolehan Shalat Tanpa Wudhu dan Tayamum bagi Tenaga Medis Covid-19

0
2330

BincangSyariah.Com – Di awal tulisan ini, penulis mengajak para pembaca untuk mendoakan serta mendukung para tenaga medis yang berada di garda depan dalam memerangi corona. Mereka rentan sekali terpapar virus corona karena berhubungan dengan pasien positif corona yang mereka tangani.

Untuk mengantisipasi hal itu, para medis harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dalam penanganan Covid-19. Selama memakai APD, para tenaga medis tidak boleh minum, makan, bahkan sekedar untuk buang air kecil. Pemakaian APD ini bisa sampai berjam-jam lamanya dan hanya untuk satu kali pakai hingga tugasnya selesai. Sungguh perjuangan yang sangat berat.

Terkait dengan pemakaian APD yang berjam-jam itu, muncul pertanyaan, bagaimana dengan perawat atau dokter yang muslim apabila ingin shalat? Menyikapi permasalahan ini, KH. Amin Ma’ruf meminta MUI dan ormas Islam untuk mengeluarkan fatwa tentang kebolehan shalat tanpa wudlu’ dan tayammum untuk memudahkan ibadah para tenaga medis.

Bila ditelisik lebih dalam, permintaan beliau berpijakan pada konsep fikih tentang bolehnya seseorang shalat tanpa wudlu’ dan tayammum bila dalam kondisi sebagai faqid ath-thahurain. Pertanyaannya, apakah benar kondisi tenaga medis tersebut bisa dikategorikan sebagai faqid ath-thahurain?

Faqid ath-thahurain secara harfiah berarti orang yang kehilangan dua alat sesuci, yaitu air dan debu. Dari pengertian secara harfiah ini, beberapa orang salah paham sehingga tetap mengharuskan tenaga medis untuk tetap berwudlu, sebab masih bisa menemukan air dan debu. Ini bisa dimaklumi mengingat bahwa beberapa kitab fiqh secara eksplisit menyebutkan faqid ath-thahurain dalam arti sempit, seperti yang dapat kita baca dalam kitab Hasyiayh al-Bajuri ‘ala Fathul Qarib (1/250):

(تَتِمَّةٌ) عَلَى فَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ وَهُمَا الـمَاءُ وَالتُّرَابُ أَنْ يُصَلِّيَ الفَرْضَ لِحُرْمَةِ الوَقْتِ وَيُعِيْدَهَا إِذَا وَجَدَ أَحَدَهُمَا.

Baca Juga :  Kapankah Wudhu Disyariatkan?

Wajib bagi orang yang tidak menemukan dua alat sesuci, yaitu air dan debu, untuk shalat fardlu karena menghormati waktu shalat. Ketika sudah menemukan salah satunya, maka ia wajib mengulanginya kembali.”

Padahal literatur fikih lain mengartikan faqid ath-thahurain lebih luas lagi. Seperti yang termaktub dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (14/273):

فَاقِدُ الطَّهُوْرَيْنِ هُوَ الَّذِيْ لَمْ يَجِدْ مَاءً وَلَا صَعِيْدًا يَتَيَمَّمُ بِهِ، كَأَنْ حَبَسَ فِيْ مَكَانٍ لَيْسَ وَاحِدٌ مِنْهُمَا، أَوْ فِيْ مَوْضِعٍ نَجِسٍ لَيْسَ فِيْهِ مَا يَتَيَمَّمُ، وَكَانَ مُحْتَاجًا لِلْماءِ الَّذِيْ مَعَهُ لِعَطْشٍ، وَكَالـمَصْلُوْبِ وَرَاكِبِ سَفِيْنَةٍ لَا يَصِلُ إِلَى الـمَاءِ، وَكَمَنْ لَا يَسْتَطِيْعُ الوُضُوْءَ وَلَا التَّيَمُّمَ لِـمَرَضٍ وَنَحْوِهِ.

Faqid ath-thahurain adalah orang yang tidak menemukan air atau debu yang digunakan untuk tayammum, seperti ia dalam kondisi terkurung dalam tempat yang tidak terdapat salah satu dari kedua hal tersebut (air dan debu). Atau ia terkurung dalam tempat najis yang tidak ada debu untuk bertayammum, sedangkan ia butuh pada air yang ia bawa karena kehausan. Atau seperti orang yang disalib dan penumpang perahu yang tidak bisa mencapai air. Atau seperti orang yang tidak bisa berwudlu’ dan bertayammum sebab sakit dan lainnya”

Dari teks tersebut, para tenaga medis yang menggunakan APD bisa dikategorikan sebagai faqid ath-thahurain karena masuk pada kriteria yang terakhir, yaitu tidak bisa berwudhu’ atau tayammum karena ada uzur. Sebab APD yang mereka gunakan hanya untuk satu kali pemakaian dan untuk melepaskannya untuk sekedar berwudlu’ mereka harus memakai APD yang baru dan mengulang lagi prosedur awal pemakaian, seperti APD harus disemprot dengan antiseptik, dan disterilkan dengan menggunakan alat autoclave.

Tentu hal ini sangat merepotkan bagi mereka sehingga kondisi mereka ini sudah masuk dalam kategori uzur syar’i yang menyebabkan mereka tidak bisa berwudlu maupun bertayammum.

Baca Juga :  Ini Hukum Berjamaah Salat bagi Tunanetra atau Tunarungu

Mengenai kewajiban shalat serta mengqadla’nya bagi orang yang berada dalam kondisi uzur seperti ini, ulama dalam mazhab Syafi’i berselisih pendapat. Setidaknya ada 4 (empat) pendapat yang disebutkan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (3/103):

أَمَّا الـمَعْذُوْرُ كَمَنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً وَلَا تُرَابًا فَفِيْهِ أَرْبَعةُ أَقْوَالٍ لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى… أَصَحُّهَا عِنْدَ أَصْحَابِنَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى حَالهِ وَيَجِبُ أَنْ يُعِيْدَ إِذَا تَمَكَّنَ مِنَ الطَّهَارَةِ، وَالثَّانِيْ يَحْرُمُ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ وَيَجِبُ القَضَاءُ، وَالثَّالِثُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُصَلِّيَ وَيَجِبُ القَضَاءُ، وَالرَّابِعُ يَجِبُ أَنْ يُصَلِّيَ وَلَا يَجِبُ القَضَاءُ وَهَذَا القَوْلُ اخْتِيَارُ الـمُزَنِّيْ وَهُوَ أَقْوَى الأَقْوَالِ دَلِيْلًا.

Adapun orang yang memiliki uzur, seperti orang yang tidak menemukan air maupun debu, maka dalam hal ini ada 4 pendapat imam Syafi’i …Pendapat paling shahih menurut ulama ashhab kita adalah ia wajib menunaikan shalat dalam kondisinya sekarang (uzur) dan wajib untuk mengulanginya bila memungkinkan untuk bersesuci. Pendapat kedua, haram baginya untuk shalat tapi ia wajib mengqadla’nya.Pendapat ketiga, ia disunahkan untuk melaksanakan shalat dan wajib mengqadla’nya. Pendapat keempat, ia wajib menunaikan shalat dan tidak wajib mengqadla’nya. Pendapat (terakhir) ini merupakan pendapat yang dipilih oleh imam al-Muzanni sekaligus pendapat yang lebih kuat dalilnya.

Atas pertimbangan pendapat Imam an-Nawawi ini, maka tenaga medis yang memakai APD boleh memilih pendapat yang lebih kuat dalilnya, yaitu pendapat wajibnya shalat ketika masuk waktu sesuai dengan keadaan dan tidak wajib untuk mengulanginya atau mengqadla’.

Bila ia ingin solusi lain, ia bisa mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan untuk menjama’ shalat walaupun dalam kondisi tidak sedang bepergian, asalkan ada hajat dan tidak dijadikan kebiasaan yang terus-menerus dilakukan meski sudah dalam kondisi normal (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/219).

Baca Juga :  Zikir Sunah Dilakukan Setelah Salat Fardu atau Setelah Salat Sunah Rawatib?

Semua keringanan ini merupakan refleksi prinsip kemudahan (taysir) dalam pelaksanaan hukum Islam yang terangkum dalam salah satu dari 5 kaidah dasar fikih, yaitu al-masyaqqah tajlib at-taysir (kesulitan menyebabkan adanya kemudahan). Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here