Dalil Fadilah Puasa: Diangkatnya Derajat Orang-Orang yang Berpuasa (I)

0
685

BincangSyariah.Com – Imam Izzuddin bin Abdissalam di dalam kitabnya Maqashidus Shaum menyebutkan bahwa salah satu fadilah puasa adalah dapat mengangkat derajat-derajat (orang mukmin). Hal ini didasarkan pada riwayat-riwayat hadis Nabi Muhammad saw. sebagaimana berikut.

Hadis Pertama

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ». رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Jika Ramadan telah datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu langit ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (H.R. Muslim)

Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa maksud terbukanya pintu-pintu surga adalah sebuah ungkapan atas banyaknya ketaatan-ketaatan (yang dilakukan di bulan Ramadan) sehingga menyebabkan wajibnya terbukanya pintu-pintu surga (bagi yang melakukannya).

Sementara itu, tertutupnya pintu-pintu neraka adalah ungkapan atas sedikitnya kemaksiatan-kemaksiatan (yang dilakukan di bulan Ramadan) sehingga menyebabkan wajibnya tertutupnya pintu-pintu neraka.

Dan maksud dari terbelenggunya setan-setan adalah ungkapan atas terputusnya waswas setan bagi orang-orang yang berpuasa, karena mereka tidak makan dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan.

Dengan demikian, bulan Ramadan memanglah ajang untuk pengangkatan derajat orang mukmin, di mana pada bulan ini mereka digembleng untuk terus berlomba-lomba berbuat kebaikan, menahan nafsu di siang hari dengan berpuasa dan menghidupkan malam hari dengan beribadah.

Bahkan Prof. Quraish Shihab di dalam salah satu dialognya bersama putrinya Najwa Shihab dalam acara Shihab Shihab mengatakan ungkapan yang “unik”. Beliau mengibaratkan bulan Ramadan adalah bulan “Sale” bulan yang penuh dengan bonus-bonus dan diskon-diskon dari Allah Swt. Di mana dalam bulan ini akan dilipatgandakan semua amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang mukmin.

Baca Juga :  Anjuran Memperbanyak Doa di Malam Pertama Bulan Rajab

Oleh karena bulan Ramadan adalah bulan ajang berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan pahala yang berlipatganda, maka di dalam hadis tersebut diibaratkan Nabi saw. dengan pintu-pintu surga pun terbuka luas, pintu-pintu neraka pun tertutup rapat, dan setan-setan pun terbelenggu tak dapat menggoda manusia yang sedang sibuk beribadah di siang dan malam harinya.

Hadis kedua

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائمٌ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ. رواه البخاري.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Allah Swt. telah berfirman, “Setiap perbuatan manusia itu miliknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untukku dan Aku lah yang akan membalasnya.” Puasa itu tameng (perisai). Dan jika berada di hari puasa salah satu dari kalian, maka janganlah berkata yang jelek dan janganlah bermusuhan. Maka, jika ada seseorang yang mencelanya atau hendak membunuhnya, maka hendaklah ia berkata, “Sungguh aku adalah orang yang sedang berpuasa.” Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kuasaNya, sungguh berubahnya mulut seorang yang berpuasa itu lebih wangi menurut Allah dari pada minyak misik. Bagi orang yang berpuasa itu ada dua hal yang dapat membuatnya bahagia, yakni jika ia berbuka maka ia bahagia, dan ketika ia bertemu dengan Tuhannya maka ia berbahagia dengan puasanya. (H.R. Al-Bukhari)

Baca Juga :  Hukum Puasa Qadha' di Hari-hari Tasyriq

Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa hadis qudsi dalam riwayat di atas “Setiap perbuatan manusia itu miliknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untukku dan Aku lah yang akan membalasnya.” Allah Swt. menyandarkan ibadah puasa kepada Nya. Penyandaran yang mulia ini disebabkan karena orang yang berpuasa itu dipastikan tidak akan ada riya’ di dalam dirinya karena samarnya ibadah puasa.

Artinya orang yang berpuasa itu tidak dapat menyombongkan dirinya dengan ibadahnya, berbeda dengan salat yang bisa terlihat nyata oleh orang lain saat kita melaksanakan salat. Dan Allah swt. mau menjamin langsung hambaNya yang mau berpuasa disebabkan karena lapar dan hausnya untuk berpuasa itu benar-benar bukti seorang manusia mau mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan tidak mungkin dua hal itu (lapar dan haus) adalah suatu bentuk untuk mendekatkan diri kepada raja-raja yang ada di bumi atau berhala-berhala.

Selain itu, Imam Izzuddin bin Abdissalam juga menjelaskan bahwa maksud firman Allah swt. “Aku yang akan membalasnya.” Meskipun semua ketaatan itu juga akan dibalas oleh Allah Swt., namun pembalasan (pemberian pahala) puasa itu yang sangat besar.

Adapun maksud dari puasa itu perisai adalah puasa itu penjaga dari azab Allah. Sedangkan sabda “Hendaklah kalian berkata, “Sungguh aku adalah orang yang berpuasa.” maksudnya adalah hal itu sebagai pengingat dirinya bahwa ia sedang berpuasa sehingga ia dapat menghindari dari tidak membalas orang yang mencelanya.

Sementara itu, maksud dari “Berubahnya bau mulut orang yang puasa lebih wangi menurut Allah (di hari Kiamat) dari pada wanginya minyak misik.” Menurut imam Izzuddin bin Abdissalam adalah “Dan pahala berubahnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik menurut Allah Swt. dari pada minyak misik.”

Baca Juga :  Lima Etika Menghadiri Undangan

Sedangkan maksud dari dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa yang salah satunya ketika ia berbuka adalah disebabkan karena ia telah menyempurnakan ibadahnya, sehingga ia bahagia. Dan bahagia lainnya adalah ketika dapat bertemu dengan Allah Swt. sebab puasanya, maka hal ini adalah sebagai balasan Allah Swt. kepadanya.

Hadis ketiga

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى… (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Setiap amal manusia itu kebaikannya akan dilipatkan sepuluh kali lipat semisalnya sampai tujuh ratus kelipatannya. Allah Swt. berfirman, “Kecuali puasa, karena sungguh ia adalah milikku dan Aku lah yang akan membalasnya, dia meninggalkan syahwatnya dan makanannya karenaKu.” …. (H.R. Muslim)

Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa maksud dari “dia meninggalkan syahwat (keinginan) dan makanannya karenaKu” adalah bahwa seseorang ketika lebih mengutamakan taat kepada Tuhannya maka ia akan mengalahkan menuruti nafsunya, meskipun dalam keadaan sangat kuat syahwat dan hawa nafsunya. Ia akan diberikan pahala oleh Allah Swt. dengan balasan khusus dariNya. Karena siapa yang mau lebih mengutamakan Allah, maka Allah pun akan lebih mengutamakannya.

Oleh sebab itu, siapa yang bermaksud hendak melakukan kemaksiatan, kemudian ia meninggalkannya karena takut kepada Allah Swt., maka sungguh Allah akan berfirman kepada para malaikat Hafadzah, “Tulislah untuknya kebaikan, karena sungguh ia telah meninggalkan syahwatnya karena Aku.”

bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here