Ini Dalil Batalnya Wudhu Penyebar Hoax

0
852

BincangSyariah.com – Sejak era digital berkembang pesat, sejalan dengannya berkembang pula teknologi informasi. Teknologi informasi pun berpindah dari media dengan bentuk yang besar seperti televisi dan radio, kini menjadi semakin kecil berupa gawai dengan berbagai macam aplikasi yang menyediakan informasi dengan mudah. Baik berupa aplikasi media sosial hingga aplikasi mesin pencarian.

Masalahnya yang muncul adalah, masyarakat bisa memilih informasi yang menurut mereka benar meskipun faktanya itu keliru. Bahkan, terkadang masyarakat lebih mempercayai informasi yang dirilis oleh sumber-sumber yang belum diketahui kevalidannya dibanding dengan informasi yang berasal dari kanal berita. Disinilah apa yang disebut hoax akan muncul. Kemunculannya bahkan sampai pada tingkat penyampaiannya di publik terbuka. Apalagi ruang publik tersebut misalnya tidak bersifat interaktif, misalnya saat ceramah agama atau khutbah.

Bicara soal hoax dan kebohongan, para ulama terdahulu rupanya pernah membahasnya dalam konteks apakah berbohong dapat membatalkan wudhu.

al-Syairazi dalam kitab al-Muhazzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i menyatakan bahwa disunnahkan bagi orang yang tertawa dan berkata kotor untuk berwudhu. Beliau mengutip beberapa pernyataan dari para sahabat soal hal ini. Misalnya, beliau mengutip pendapat Abdullah bin Mas’ud Ra. yang jalur riwayatnya dapat ditelusuri dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir karya al-Thabarani,

لأن أتوضأ من الكلمة الخبيثة أحب إلي من أن أتوضأ من الطعام الطيب

“sesungguhnya aku berwudhu karena mengeluarkan perkataan yang buruk lebih aku cintai daripada karena memakan makanan yang baik/halal.”

Begitu juga dengan pendapat dari ibunda ‘Aisyah Ra.,

يتوضأ أحدكم من الطعام الطيب ولا يتوضأ من الكلمة العوراء

Kalian berwudhu karena memakan makanan yang halal, tapi kalian (malah) tidak berwudhu dari berkata kasar.

Ibn ‘Abbas Ra. memiliki pernyataan bahwa apa yang menjadi hadats (pembatal wudhu) itu ada dua jenis,

Baca Juga :  Doa yang Senantiasa Dibaca Abdullah bin Mas’ud Agar Dapatkan Ketenangan Hati

الحدث حدثان، حدث اللسان وحدث الفرج وأشدهما حدث اللسان

Hadas ada dua macam, pertama hadas yang muncul dari lisan, kedua hadas yang muncul dari kemaluan. Dan yang terberat adalah hadas yang muncul dari lisan.

Ibn Taymiyyah juga memiliki pendapat yang serupa bahwa disunahkan untuk berwudhu setelah seseorang melakukan kebohongan.

Memang para ulama tidak ada yang mengatakan jika wudhu menjadi batal akibat berbohong atau berkata kasar. Bahkan Ibn Munzhir berpendapat kalau ulama bersepakat seluruhnya bahwa berkata kasar tidak membatalkan wudhu.
Namun melihat konteks hari ini, kita seringkali tidak terkendali untuk mengatakan sesuatu yang kasar di media sosial jika menghadapi sosok yang ia tidak sepakati. Mengetengahkan pendapat-pendapat para sahabat tadi penting untuk kita resapi bahwa para sahabat sejak dahulu mencermati pentingnya bersuci, tidak hanya bersuci dari najis yang zahir, tapi juga menyucikan batin dan jiwa. Wallahu A’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here