Cukupkah, Membaca al-Fatihah pada Shalat di Dalam Hati?

0
308

BincangSyariah.Com-Shalat, baik fardhu atau-pun sunnah memiliki cara yang sama seperti yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Di dalam shalat terdapat dua aspek, yaitu aspek dzohir dan bathin. Kedua aspek tersebut yang harus (wajib) dijaga adalah aspek dzohir yang berkaitan dengan rukun dan syarat. Sedangkan aspek bathin yang berkaitan dengan ke-khusyu-an hanya sebagai penyempurna saja. Perlu diketahui bahwa shalat memiliki peran ganda. Selain sebagai ibadah,  juga sebagai perantara bagi seorang hamba untuk bermunjat (berbisik) kepada Tuhan-nya. [Lihat; Sayyid Muhammad Alawi, Risalatu Al-Muawanah, 1/7]

Dengan sebab kesakralan ini, Nabi Muhammad Saw. selalu mengingatkan pada Ummat-nya agar mengerjakan shalat sesuai dengan apa yang telah beliau contohkan. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda :

صَلُوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِيْ

(…Shalatlah kalian sebagaimana aku shalat…) [H.R. Al-Bukhori]

Hadis tersebut sangat simpel. Nabi hanya ingin supaya gerakan shalat yang telah dicontohkan dan dilakukan itu diikuti oleh umatnya. Berdasarkan hadis ini, dan ditambahkan dengan hadis lainnya, para ahli fikih membuat ketentuan rukun dan syarat tentang shalat. Diantaranya adalah rukun qowli (berupa ucapan), yaitu membaca surah al-fatihah. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda :

لاَصَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

(…tidak ada shalat (yang diterima) bagi orang yang tidak membaca fatihah…) [H.R. Al-Bukhari]

Namun belakangan ini banyak masyarakat muslim yang belum sepenuhnya memahami tentang standarisasi daripada qira’atu al-fatihah. Ada saja masyarakat muslim yang masih gagal dalam mempraktikkan rukun ini (membaca al-fatihah). Sehingga setiap kali membaca fatihah sering kali tidak terdengar suara bacaan-nya sekalipun bagi dirinya sendiri. Padahal jika ini betul-betul terjadi maka akibatnya akan sangat fatal, yaitu batalnya shalat yang dia kerjakan.

Menurut Al-Handawani dan Al-Fadhali bahwa yang dimaksud daripada “Qira’ah” adalah membaca yang sekiranya bacaan tersebut bisa didengar oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu, bacaan fatihah seseorang yang diucapkan di dalam hati tidak akan bisa dibenarkan. Karena membaca di dalam hati tidak termasuk membaca. Akibat daripada bacaan fatihah yang tertolak itu akan menyebabkan shalat menjadi tidak sah.

Baca Juga :  Hukum Mengeraskan Bacaan Niat Puasa setelah Tarawih

Namun ada sebagian pendapat Ulama bahwa apabila orang yang shalat telah menerapkan bacaan fatihah-nya maka sudah dianggap cukup, dengan alasan yang wajib adalah melafalkan, bukan mendengarkan. Pendapat tersebut adalah pendapatnya Imam Al-Karkhi. Akan tetapi di dalam Kitab Al-Muhith, Ulama telah memilihkan bahwa pendapat yang Ashah (kuat) adalah pendapatnya Al-Handawani dan Al-Fadhali yang mengatakan batal. [Lihat; Khazinah Al-Asror/53]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here