Cara Nabi Melepas Kepergian Ramadan

0
878

BincangSyariah.Com – Ramadan adalah salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Kemuliaannya tidak hanya sebatas pada posisinya sebagai bulan di mana Alquran diturunkan kepada umat manusia, namun, kemuliaannya juga terletak pada potensi yang dimilikinya untuk memperbaiki kualitas ketakwaan manusia kepada Tuhan yang telah menciptakannya.

Karena jika manusia telah bertakwa, maka ia akan mampu mengemban amanah yang dipercayakan kepadanya, untuk dapat memakmurkan kehidupan di dunia ini, dengan bersinergi dengan segala macam ragam hayati yang Tuhan telah ciptakan.

Karena kemuliaan Ramadan tersebut, Nabi saw menyambut kedatangannya dengan meningkatkan kualitas kebaikan yang selama ini beliau langgengkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Dan ketika Ramadan hendak pergi, beliau tidak mengurangi intensitas kebaikan yang beliau lakukan. Akan tetapi beliau malah terus meningkatkan intensitas penghambaannya kepada Allah Swt.

Hal ini terdeskripsikan dari banyaknya hadis-hadis yang menjelaskan bagaimana Nabi saw meningkatkan ibadahnya ketika memasuki fase-fase akhir dari bulan Ramadan. Bahkan, Sayidah Aisyah ra, sampai mengumpamakan semangat Nabi saw meningkatkan kualitas ibadahnya, dengan ungkapan bahwa beliau saw “mengencangkan sarungnya” (syadda mi’zarahu) ketika akhir bulan Ramadan tiba.

Ungkapan “mengencangkan sarung” sejatinya sebagai sebuah gambaran, bahwasanya Nabi saw meningkatkan penghambaannya kepada Allah Swt, baik secara kualitas, ataupun secara kuantitas. Lebih dari itu, beliau tidak hanya meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya sendiri, akan tetapi beliau juga mengajak keluarganya untuk turut melepas kepergian Ramadan, dengan kualitas serta kuantitas ibadah yang lebih baik lagi dibandingkan ketika Ramadan baru tiba menyapa mereka.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah bahwasannya Rasulullah saw jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, dan menghidupkan malamnya, serta membangunkan keluarganya (istri-istrinya). (HR. Bukhari).

Baca Juga :  Hukum Salat Sambil Gendong Anak yang Pakai Pampers

Lebih dari itu, ketika Ramadan telah memasuki hari-hari akhirnya, Nabi saw melaksanakan ibadah itikaf, agar umatnya dapat mengikuti apa yang Nabi saw teladankan.

Sebagaimana diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah ra,

Sesungguhnya Rasulullah saw senantiasa beriktikaf ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, hingga beliau diwafatkan oleh Allah Swt, kemudian para istrinya terus mendawamkan iktikaf tersebut setelah beliau tiada (HR. Muslim).

Karena iktikaf, selain sebagai sebuah ibadah yang disyariatkan oleh Allah Swt melalui Nabi saw, juga memiliki fungsi sebagai ruang meditasi seorang hamba, untuk merenungi kebaikan-kebaikan Tuhan yang telah dikaruniakan kepadanya, serta kekurangan-kekurangannya dalam memanifestasikan rasa syukur atas segala karunia Tuhan yang telah ia rasakan.

Sehingga, melalui serangkaian ibadah yang ditingkatkan dalam hari-hari terakhir Ramadan, baik berupa salat malam, bersedakah, ataupun itikaf, serta ibadah-ibadah lainnya, ketika Ramadan berlalu, ia bisa mencapai pada tujuannya, yaitu membentuk manusia-manusia bertakwa, yang tidak hanya patuh kepada Tuhan sang pencipta, tapi juga sayang kepada seluruh ciptaannya. Wallahu ‘Alam Bisshowab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here