Cara Mengusap Pembalut Luka saat Wudhu

0
1576

BincangSyariah.Com – Dalam kitab-kitab fiqih terdapat pembahasan mengenai anggota tubuh yang diperban karena luka, patah dan lain sebagainya. Peralatan penutup luka seperti itu disebut dengan jabirah, atau pembalut. Pengertian jabirah adalah pembalut yang dipasang dan diletakkan pada bagian tubuh yang retak, pecah, patah, atau terluka agar segera pulih kembali. Dari sini dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang termasuk jabirah di antaranya adalah gips, perban, pembalut, obat dan lain sebagainya.

Selama masih hidup, orang Muslim wajib melaksanakan shalat dalam kondisi apa pun termasuk ketika dalam kondisi bagian tubuh tengah diperban. Sedangkan shalat harus dilakukan dalam keadaan suci dari hadas baik besar maupun kecil sehingga harus mandi wajib dan wudhu. Lalu bagaimana solusinya?

Bagi seseorang yang pada bagian tubuhnya terdapat jabirah, ketika bersuci dari hadas besar atau kecil, tetap wajib membasuh bagian anggota yang dibalut tersebut meskipun akan memerlukan air panas. Namun apabila membasuh anggota tubuh yang dibalut khawatir akan mendapat bencana, misalnya akan menimbulkan penyakit, menambah perih atau lama sembuh, maka diperbolehkan bersuci dengan mengusap pembalut tanpa harus melepasnya kemudian bertayamum. Tayamum wajib dilakukan sebagai ganti dari anggota yang wajib dibasuh.

Kebolehan mengusap jabirah, jika terjadi beberapa ketentuan berikut; 1) tidak mungkin melepas jabirah karena dikhawatirkan akan terlalu lama menderita, sakitnya bertambah parah atau justru akan menimbulkan luka baru. 2) posisi jabirah tidak sampai melebihi anggota yang sehat di sekitar luka, kecuali sekadar bagian yang diperlukan untuk melekatkan pembalut. 3) waktu pemasangan jabirah dalam keadaan suci dari hadas.

Bagi orang yang sedang hadas besar dan ingin mandi wajib, sedangkan pada bagian anggota tubuhnya diperban, maka ada tiga hal yang harus dilakukan dengan dua pilihan. Pilihan pertama diawali dengan; 1) tayamum, 2) membasuh seluruh anggota tubuh yang sehat, 3) kemudian mengusap jabirah dengan air. Sedangkan pilihan kedua diawali dengan; 1) membasuh seluruh anggota yang sehat dan membasuh anggota di sekitar jabirah, 2) mengusap jabirah dengan air, 3) kemudian tayamum.

Sedangkan bagi orang yang ber-hadas dan pada bagian anggota tubuhnya terdapat jabirah, ketika ingin wudhu harus memperhatikan hal-hal berikut;

Pertama; apabila jabirah terdapat pada bagian anggota di luar wudhu, maka harus melakukan wudhu seperti biasa dan tidak wajib mengusap jabirah maupun tayamum, karena jabirah-nya tersebut tidak berpengaruh apa-apa.

Kedua; apabila jabirah terdapat pada bagian anggota wudhu, maka ada tiga hal yang harus di lakukan; 1) membasuh seluruh anggota wudhu yang sehat, 2) mengusap jabirah dengan air, 3) dan tayamum.

Dalam mandi wajib, antara membasuh anggota yang sehat, mengusap jabirah dan tayamum tidak disyaratkan tartib sehingga boleh tayamum dilakukan di awal maupun di akhir. Sedangkan dalam wudhu, antara membasuh anggota wudhu, mengusap jabirah dan tayamum disyaratkan tartib. Tidak boleh tayamum dilakukan di awal atau akhir wudhu seperti pada mandi wajib. Misalnya jabirah terdapat pada bagian wajah, maka pelaksanaan membasuh anggota wudhu harus tertib di mulai dari; Niat wudhu sekaligus membasuh wajah yang sehat di sekitar jabirah, mengusap jabirah dengan air, lalu tayamum kemudian dilanjutkan pada bagian anggota wudhu setelahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here