Cara Menghitung Zakat Usaha Jasa Menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili

0
12

BincangSyariah.Com – Telah kita ketahui bersama bahwa dalam syariat Islam, salah satu komoditas yang wajib dizakati ialah harta perniagaan atau tijaroh. Syekh Ar-Raghib al-Asfahani dalam kitab Al-Mufradat fi Gharib al-Quran (j. 1 h. 178) menjelaskan definisi tijaroh sebagai:

التَّصَرُّفُ فِي رَأْسِ الْمَالِ طَلَبًا لِلرِّبْحِ

“Tijarah adalah mengelola modal untuk mencari laba (keuntungan).”

Dengan menggunakan definisi diatas serta berbagai penjelasan lainnya, kita bisa memasukkan usaha jasa sebagai salah satu dari jenis tijaroh. Hal ini bisa dipahami karena usaha jasa dilakukan semata untuk mencari keuntungan atau laba. Satu contoh misalkan usaha jasa transportasi seperti bus antar kota antar propinsi, mereka menyediakan jasa transportasi tersebut untuk mendapatkan keuntungan yang dihasilkan dari ongkos atau upah yang dibebankan kepada konsumen.

Ada beberapa ketentuan dalam zakat tijaroh ini, yakni: pertama, usaha tersebut telah berjalan 1 tahun (haul), kedua, harus mencapai nishab, yakni sama dengan nishab emas yaitu 20 dinar atau senilai 85 gr emas, ketiga, besaran zakatnya ialah 2,5 %, keempat, bisa dibayarkan dalam bentuk barang atu uang, dan kelima, berlaku pada usaha perorangan maupun perserikatan.

Pada tijaroh yang berupa usaha perdagangan barang, tatacara menghitungnya ialah:

Harta tijaroh = (Modal diputar + Keuntungan + piutang yang dapat dicairkan) – (hutang + kerugian)

Besar zakat = harta tijaroh x 2,5 %

Sedangkan untuk tijaroh yang berupa usaha jasa, Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (j. 3 h. 1947) memberikan penjelasan sebagai berikut,

زكاة العمارات والمصانع ونحوها: اتجه رأس المال في الوقت الحاضر لتشغيله في نواحٍ من الاستثمارات غير الأرض والتجارة، وذلك عن طريق إقامة المباني أو العمارات بقصد الكراء، والمصانع المعدة للإنتاج، ووسائل النقل من طائرات وبواخر (سفن) وسيارات، ومزارع الأبقار والدواجن وتشترك كلها في صفة واحدة هي أنها لا تجب الزكاة في عينها وإنما في ريعها وغلتها أو أرباحها. وبالرغم من أن جمهور فقهائنا لم ينصوا على وجوب الزكاة في هذا النوع من المستغلات،

Baca Juga :  Bedakan Manja dan sayang kepada Anak-anak kita

Zakat gedung, pabrik dan sejenisnya: ketika modal pada suatu waktu diarahkan untuk diinvestasikan pada selain tanah dan perdagangan, yakni dengan mendirikan bangunan atau gedung untuk disewakan, pabrik untuk produksi, alat transportasi seperti pesawat terbang, kapal dan mobil, serta kandang ternak atau unggas. Semuanya memiliki karakteristik yang serupa, yakni tidak wajib menzakati benda (aset)nya itu sendiri, namun menzakati pendapatan, hasil, atau keuntungannya.

Mengacu pada penjelasan Syekh Wahbah diatas, berarti cara menghitung zakat usaha jasa ialah dengan mengambil 2,5 % dari total penghasilan atau laba yang didapat dari usaha tersebut. Berikut kami berikan contoh agar menjadi semakin jelas:

Pada tanggal 1 Muharram 1435 H, Masrur memulai usaha jasa angkutan pariwisata dengan membeli 2 buah bis pariwisata senilai 2 x 2,7 milyar rupiah ditambah 3 buah minibus senilai 3 x 850 juta rupiah. Pada saat tutup buku akhir tahun, di tanggal 1 Muharram 1436 H, usaha tersebut menghasilkan keuntungan sebesar 135 juta rupiah dengan perincian 100 juta ada dalam saldo bank, 10 juta berupa piutang yang akan dibayar sebulan kemudian, dan 25 juta berupa piutang yang akan dibayar 6 bulan kemudian.

Cara menghitungnya ialah:

Tahap I: tentukan harta tijaroh

Harta tijaroh dalam usaha jasa ini tidak menghitung asset kendaraan yang menjadi modal usaha Masrur. Semua bis dan minibus yang menjadi alat produksi jasa tidak dihitung entah itu dibeli secara kredit maupun kontan. Perhitungan hanya melihat pada total keuntungan yang didapat yakni 135 juta. Namun karena pada kasus diatas terdapat 2 jenis piutang yakni yang bisa dicairkan di waktu dekat dan di waktu jauh, maka yang dikategorikan sebagai harta tijaroh pada tahun ini ialah keuntungan yang sudah berada di saldo bank dan piutang yang akan dibayar bulan depan. Untuk piutang akan dibayar 6 bulan ke depan, akan dimasukkan di tahun buku berikutnya. Sehingga total harta tijaroh ialah sebesar 100 juta ditambah 10 juta, yakni 110 juta rupiah.

Baca Juga :  Terkait WNI di Wuhan China, Ini Perselisihan Ulama Fikih tentang Evakuasi Korban Wabah Penyakit

Tahap II: menentukan apakah harta tijaroh sudah masuk nishab

Nishab harta tijaroh ialah 85 gram emas. Jika harga emas saat ini ialah 600 ribu rupiah per gram, maka nishabnya ialah 85 x 600 = 51 juta rupiah. Berarti dengan demikian, harta tijaroh sudah masuk nishab, sehingga wajib dizakati.

Tahap III: menentukan besaran zakat

Besaran zakat = keuntungan x 2,5% = 110 juta x 2,5 % = 2.750.000 rupiah

Demikian penjelasan mengenai tatacara menghitung zakat usaha jasa ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here