Cara Menghilangkan Najis ketika Bersuci

1
2363

BincangSyariah.Com – Ulama’ ahli fiqih membagi najis menjadi tiga jenis dan masing-masing memiliki tata-cara tersendiri dalam menyucikannya. Pertama disebut najasah mughalladzah, najis berat, kedua najasah mukhaffafah, najis ringan, ketiga najasah mutawassithah, najis pertengahan.

Najis mughalladzah adalah najis yang bersumber dari anjing atau babi. Cara menyucikannya adalah dengan tujuh kali cucian, dan cucian yang pertama atau salah satunya menggunakan tanah suci atau semacamnya. Dalilnya adalah hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw bersabda;

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

cara menyucikan bejana dari seseorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, cucian yang pertama menggunakan tanah”.

Demikian juga cara menyucikan najis yang berasal dari babi, karena babi lebih buruk daripada anjing.

Najis mukhaffafah adalah air kencing anak laki-laki atau muntahnya yang belum berumur dua tahun dan belum makan makanan selain ASI. Cara menyucikan najis mukhaffafah adalah cukup dengan hanya menyiramkan atau memercikkan air pada seluruh bagian yang terkena najis mukhaffafah. Dalilnya adalah hadis riwayat al-Imam al-Nasa’i dan Abu Daud dari Abu Samh, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda:

يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ

Air kencing anak perempuan itu dicuci, sedangkan air kencing anak laki-laki itu dipercikkan

Najis mutawassithah adalah semua najis selain najis mughalladzah dan najis mukhaffafah, di antaranya;

  1. Darah (termasuk  darah manusia), nanah dan sebagainya.
  2. Kotoran atau air kencing manusia atau binatang, atau sesuatu yang keluar dari perut melalui jalan manapun termasuk yang keluar melalui mulut (muntah).
  3. Bangkai  binatang  yaitu  binatang  yang  mati tidak disembelih secara islam, bangkai binatang yang tidak halal dimakan meskipun disembelih, kecuali bangkai ikan dan belalang.
  4. Benda cair yang memabukkan.
  5. Air susu atau air mani binatang yang tidak halal dimakan.
Baca Juga :  Cara Bertepuk Tangan dalam Shalat Bagi Perempuan Ketika Mengingatkan Imam

Cara menyucikan najis mutawassithah adalah dengan menghilangkan rupa, rasa dan baunya. Selain itu tidak disyaratkan jumlah bilangan cucian seperti dalam najis mughalladzah. Najis mutawassithah sudah dinilai suci apabila rupa, rasa dan bau najis tersebut sudah hilang meski dengan sekali cucian.

Perlu diketahui bahwa ketiga jenis najis di atas, secara umum dibagi dua; hukmiyah dan ‘ainiyah. Hukmiyah adalah jenis najis yang tidak memiliki bentuk yang dapat diraba, dilihat dan baunya hilang. Semua jenis najis apabila masuk dalam kategori hukmiyah maka cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air ke seluruh bagian yang terkena najis tersebut.

Sedangkan ‘ainiyah adalah semua jenis najis yang memiliki bentuk yang dapat diraba, atau dilihat atau baunya masih dapat dicium. Cara meysucikan semua jenis najis dalam kategori ‘ainiyah ini adalah dengan menghilangkan bendanya itu sendiri, jika masih tersisa warnanya setelah digosok, maka dimaafkan. Demikian pula dimaafkan dengan bau yang masih tersisa, jika memang sulit dihilangkan.

1 KOMENTAR

  1. […] Ketika kita melihat najis di dalam masjid, baik berupa najis mutawassithah maupun mughalladzah, maka kita wajib segera membersihkan dan membasuhnya. Kita tidak boleh membiarkan najis berada di dalam masjid. Hal ini karena masjid bukan tempat najis sehingga jika kita melihatnya, maka kita wajib segera membasuhnya. (Baca: Cara Menghilangkan Najis ketika Bersuci) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here