Cara Ekspresikan Kelahiran Nabi Muhammad

2
577

BincangSyariah.Com – Pada 16 Desember, saya mendengar Ustad Zia Ul Haramain, putra almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, menyampaikan khutbah  Jumat tentang Maulid Nabi Muhammad. Ada dua hal menarik yang saya dapati dari khutbah itu, yaitu sikap kita tehadap kelahiran Nabi Muhammad dan bagaimana sikap itu diekspresikan.

Sesampainya di kota Madinah, Nabi Muhammad mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram.  Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab, “Pada hari ini Musa dan Bani Israil diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun. Kami berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur.”

Nabi Muhammad kemudian menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak atas Musa. Beliau memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram dan satu hari
sebelumnya (tanggal 9) atau sesudahnya (tanggal 11). Hal ini untuk membuktikan bahwa umat Islam juga berbahagia dengan peristiwa selamatnya Nabi Musa namun membedakan diri dari Yahudi.

Selamatnya dua orang Nabi (Musa dan Harun) beserta seluruh umatnya merupakan
peristiwa besar yang wajib disyukuri. Muncul pertanyaan, “Apakah ada peristiwa yang lebih
membahagiakan dari peristiwa tersebut?” Jawabannya adalah iya, yaitu kelahiran Nabi
Muhammad yang menjadi juru selamat bukan hanya satu kaum tetapi seluruh manusia hingga
Hari Kiamat.

Ketika Nabi Muhammad bersyukur atas keselamatan Nabi Musa dan umatnya,
kelahiran beliau menjadi lebih penting untuk disyukuri. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Nabi Muhammad sering berpuasa pada hari Senin. Saat ditanya, beliau menyatakan bahwa Senin adalah hari di mana beliau dilahirkan dan berpuasa merupakan ekspresi dari rasa syukur dan bahagia.

Tiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan rasa syukurnya. Ada yang
melakukan perenungan, berpuasa, dan ada juga yang berkumpul dengan keluarga dan kawan-
kawannya. Silakan bersyukur dengan caranya masing-masing tanpa harus menyalahkan pilihan orang lain. Orang Indonesia, dan banyak orang lainnya di belahan bumi, suka berkumpul, maka ekspresi kegembiraan adalah dengan berkumpul.

Baca Juga :  Akibat Mengatakan Maulid Nabi Bidah Dhalalah, Pria Ini Sakit Selama Setahun

Berkumpul adalah cara yang indah untuk menjaga silaturahim dan menyelesaikan pertikaian. Tradisi kita penuh dengan acara berkumpul, sebut saja saat menikah kita berkumpul dalam resepsi pernikahan, saat hamil kita berkumpul untuk mendoaka jabang bayi, saat lahiran kita berkumpul untuk melaksanakan akikah, pindahan rumah kita berkumpul untuk berpamitan dengan tetangga lama dan memperkenalkan diri  dengan tetangga baru, saat nonton bola kita juga berkumpul. Maka rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad bisa diwujudkan dengan berkumpul.

Apa yang kita lakukan saat berkumpul? Kita mengenang Nabi Muhammad Saw. mempelajari sifat-sifat mulia beliau. Dalam banyak kesempatan, saya melontarkan pertanyaan kepada jamaah pengajian dan mahasiswa program studi agama Islam. Siapa saja nama paman Nabi Muhammad? Siapa anak sulung Nabi Muhammad? Bagaimana sikap Nabi Muhammad saat mendapati dirinya dicaci dan dimaki? Banyak yang tidak mampu menjawabnya.

Namun saat saya ajukan pertanyaan terkait anak dari artis tertentu, dan penyanyi lagi ini, atau siapa kakak dari Ipin dan Upin, semuanya mampu menjawab. Bahkan dalam waktu dua menit mereka bisa menulis lebih dari 30 artis Amerika. Sementara itu, saat diberikan waktu yang sama untuk menulis nama sahabat Nabi Muhammad, mereka hanya mampu menuliskan sebelas nama.

Dari sini saya menganggap maulid merupakan tradisi yang balik. Tradisi tidak perlu dalil sebagaimana ibadah, jadi jangan tanya mana hadis sahih tentang maulid Nabi Muhammad sebagaimana kita tidak bertanya ayat dan hadis yang membolehkn arisan, ulang tahun, pelatihan dasar kepemimpinan.

Kita bersyukur dengan kelahiran Nabi Muhammad, dengan cara berkumpul, mendengarkan bacaan tentang sejarah beliau, serta mendengarkan ceramah agama. Jika cara ini tidak cocok, silakan bersyukur dengan cara berpuasa. Jangan mencaci orang lain yang mengekspresikan kebahagiannya atas kelahiran Nabi Muhammad dengan cara yang berbeda, lalu dengan menggunakan dalil Hadis Nabi kita menjelek-jelekkan saudara seiman padahal hal itu dilarang oleh Nabi Muhammad.

2 KOMENTAR

  1. Setiap amalan harus ada rujukannya, setiap amalan akan dimintai pertanggungjawaban (termasuk analisa dan ajuran antum merayakan maulid nabi dg logika yg antum sajikan).

  2. SIAPA BILANG PERINGATAN MAULID NABI BID’AH

    https://youtu.be/A0jI8koFqzs

    Peringatan Maulid Menurut 4 Madzhab

    Bagaimana pendapat ulama imam 4 madzhab tentang peringatan maulid? seperti Imam as-Syafii…

    Jawab:

    Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

    Kita semua mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua memuliakan beliau. Kami, anda, mereka, semua muslim sangat mencintai dan memuliakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Yang menjadi pertanyaan, apakah perayaan maulid merupakan cara benar untuk mengungkapkan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

    Kita tidak tahu pasti kapan pertama kali maulid ini diadakan. Namun jika kita mengacu pada keterangan al-Maqrizy dalam kitabnya al-Khathat (1/490), maulid ini ada ketika zaman Daulah Fatimiyah, daulah syiah yang berkuasa di Mesir. Mereka membuat banyak Maulid, mulai dari Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain. Dan Bani Fatimiyah berkuasa sekitar abad 4 H.

    Al-Maqrizy adalah ulama ahli sejarah dari Mesir. Wafat tahun 845 H.

    Mengenai siapa bani fathimiyah, bisa anda pelajari di: Mengenal Kerajaan Syiah Daulah Fatimiyah

    Inilah yang menjadi alasan, kenapa para ulama ahlus sunah yang menjumpai perayaan maulid, menginkari keberadaan perayaan ini. Karena pada hakekatnya, mereka yang merayakan peringatan maulid, melestarikan kebudayaan daulah Fatimiyah yang beraqidah syiah bathiniyah.

    Kita akan simak penuturan mereka,

    [1] Keterangan Tajuddin al-Fakihani (ulama Malikiyah w. 734 H),

    لا أعلم لهذا المولد أصلاً في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين، بل هو بِدعة أحدثها البطالون

    Saya tidak mengetahui adanya satupun dalil dari al-Quran dan sunah tentang maulid. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan ini adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil. (Risalah al-Maurid fi Hukmi al-Maulid, hlm. 1).

    [2] Keterangan as-Syathibi (w. 790 H)

    فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة وكل بدعة ضلالة

    Semua paham bahwa mengadakan maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bid’ah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bid’ah adalah sesat. (Fatawa as-Syatiby, hlm. 203).

    [3] Keterangan as-Sakhawi (ulama Syafiiyah dari Mesir, muridnya Ibnu Hajar al-Asqalani),

    أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة

    Asal perayaan maulid as-Syarif (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak dinukil dari seorangpun dari ulama salaf yang hidup di tiga generasi terbaik. (al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, hlm. 12)

    [4] Pujian as-Suyuthi terhadap keterangan Abu Amr bin al-Alla’ (w. 154 H)

    ولقد أحسن الإمام أبو عمرو بن العلاء حيث يقول: لا يزال الناس بخير ما تعجب من العجب – هذا مع أن الشهر الذي ولد فيه رسول الله وهو ربيع الأول هو بعينه الشهر الذي توفي فيه، فليس الفرح بأولى من الحزن فيه

    Sungguh benar yang dinyatakan Imam Abu Amr bin al-Alla’, beliau mengatakan, “Masyarakat akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih merasa terheran. Mengingat bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rabiul Awal, yang ini juga merupakan bulan wafatnya beliau. Sementara bergembira di bulan ini karena kelahirannya, tidak lebih istimewa dari pada bersedih karena wafatnya beliau. (al-Hawi Lil Fatawa, 1/190).

    Kebahagiaan mereka di tanggal 12 Rabiul awal dengan anggapan sebagai hari maulid, bertepatan dengan hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mana yang lebih dekat, peringatan kelahiran ataukah peringatan kematian.

    [5] Keterangan Imam Ibnul Hajj (w. 737 H) menukil pernyataan al-Allamah al-Anshari

    فإن خلا – أي عمل المولد- منه – أي من السماع – وعمل طعاماً فقط، ونوى به المولد ودعا إليه الاخوان، وسلم من كل ما تقدم ذكره – أي من المفاسد- فهو بدعة بنفس نيته فقط، إذ إن ذلك زيادة

    Jika kegiatan maulid itu bersih dari semua suara-suara musik, hanya berisi kegiatan makan-makan, dengan niat maulid, mengundang rekan-rekan, dan bersih dari semua aktivitas terlarang yang tadi disebutkan, maka status perbuatan ini adalah bid’ah hanya sebatas niatnya. Karena semacam ini termasuk tambahan. (al- Madkhal, 2/312)

    [6] Pengakuan tokoh sufi, Yusuf ar-Rifa’i,

    Bahkan seorang tokoh sufi Yusuf Hasyim ar-Rifa’i menyatakan dalam kitabnya bahwa perayaan maulid, termasuk yang bentuknya berkumpul untuk mendengarkan pembacaan sirah nabawi, baru ada jauh setelah para imam madzhab meninggal dunia. Yusuf ar-Rifa’i mengatakan,

    إن اجتماع الناس على سماع قصة المولد النبوي الشريف، أمر استحدث بعد عصر النبوة، بل ما ظهر إلا في أوائل القرن السادس الهجري

    Orang berkumpul untuk mendengarkan pembacaan kisah maulid as-Syarif, adalah amalan baru setelah zaman kenabian. Bahkan kegiatan ini belum semarak kecuali di awal abad ke-6 hijriyah. (ar-Rad al-Muhkim al-Mani’, hlm. 153).

    [7] Keterangan Muhammad Rasyid Ridha,

    هذه الموالد بدعة بلا نزاع، وأول من ابتدع الاجتماع لقراءة قصة المولد أحد ملوك الشراكسة بمصر

    Peringatan maulid ini statusnya bid’ah tanpa ada perbedaan diantara ulama. Sementara orang pertama yang membuat bid’ah kumpul-kumpul untuk menceritakan kisah Maulid adalah salah satu raja Circassians di Mesir. (al-Manar, 17/111)

    Maulid Menurut Ulama 4 Madzhab

    Lalu bagaimana pandangan para ulama imam madzhab, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad terkait peringatan maulid?

    Jawabannya:

    Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan keterangan dari mereka tentang maulid, sementara peringatan maulid belum pernah ada di zaman mereka..

    Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here