Cara Berwudhu Orang yang Diperban

2
425

BincangSyariah.Com – Berwudhu merupakan syarat sahnya salat. Tidak hanya salat, secara umum, dengan berwudhu atau bersuci maka sejatinya kita memperbuat sesuatu hal yang dapat menghasilkan hukum boleh, seperti boleh shalat, memegang al-Quran, dan lain sebagainya. Demikian Ibrahim al-Bajuri menerangkan dalam Hasyiah-nya.

Salah satu media untuk bersuci adalah dengan menggunakan air, sedangkan jika tidak ada air baru diperbolehkan bertayammum dengan debu. Namun bagaimana cara wudhunya orang yang diperban? Haruskah ia bertayammum meskipun ia tidak berada dalam keadaan sulit air? Atau haruskah tetap wudhu seperti biasa? Ataukah ia diperbolehkan hanya mengusap perbannya seperti halnya cara berwudhu orang yang memakai khuf?

Membicarakan tentang hukun berwudhu orang diperban, sebenarnya merupakan syariat yang berasal dari sebuah kisah yang pernah terjadi di masa Rasulullah. Diceritakan, dari sahabat Jabir  ra. Ia berkata, “Kami keluar dalam suatu perjalanan kemudian ada seseorang yang dari kami  terkena batu melukai dengan parah pada kepalanya  kemudian dia mimpi basah.

Bertanyalah dia kepada para sahabat, “Apakah kalian mendapatiku dalam rukhsah (keringanan)  untuk tayamum? mereka menjawab, “Kami tidak melihat padamu ada rukhshah dan kamu bisa menggunakan air.” Maka mandilah orang tersebut kemudian mati.

Ketika kami sampai kepada Rasulullah saw, kami ceritakan hal itu. Bersabdalah beliau, “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu? Saesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum atau dia balut lukanya dengan sehelai kain lalu usaplah di atasnya dan siramilah seluruh badannya”. (Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Imam Nawawi menjelaskan jika lukanya tak seberapa parah, maka saat berwudhu atau mandi dia masih wajib mencuci anggota tubuhnya sekalipun dengan demikian dia harus memakai air hangat. Tapi jika dikhawatirkan bertambah parah dan tak kunjung sembuh maka dia diperbolehkan hanya mengusap anggota tubuhnya yang terluka itu tanpa dibasuh.

Baca Juga :  Tata Cara Melakukan Takbir Tambahan Saat Salat Id

Namun jika dengan diusap lalu berakibat lukanya tambah parah, misalnya terinfeksi atau menyebabkan kematian jika luka tersebut terkena air, maka berdasarkan hadis di atas dia boleh membalut luka tersebut dengan perban dan hanya perlu mengusap perbannya saat bersuci.

Tidak ada tenggat waktu dalam mengusap perban, seperti dalam permasalahan khuf’. Hal itu diperbolehkan selama luka tersebut masih ada dan perban masih belum bisa dilepaskan. Tapi jika perban terbuka baik, sengaja atau tidak, maka otomatis hukum mengusap perban jadi batal.

Kemudian ia diharuskan memakai perban baru, jika luka belum sembuh, dan bersuci lagi (mengusap perbannya saat wudhu). Namun disyaratkan agar perban yang digunakan suci serta hendaknya tidak melewati bagian yang tidak terluka demikian penjelasan Wahbah Az-Zuhaili  yang tertulis dalam kitabnya Fiqh al Islami wa Adillatuhu.

2 KOMENTAR

  1. Pertanyaan saya tertuju pada perawi dalam hadis tersebut yaitu sahabat! Ada yg manarik Disana ketika rasulullah berdoa semoga allah memerangi mereka yaitu sahabat yg tdk membolehkan rukhshah tdi. Lalu bagaimana dengan “keadilan” sahabat nabi yg dirumuskan ulama asshahabah kulluhum ‘udul.? Mohon jawabannya bagi kami yg awam…

  2. Mohon klarifikasinya, jika perban yg diusap dengan air maka akan menjadi lembab, kondisi lembab tersebut menjadi media pertumbuhan jasad renik yg sebagiannya dapat membahyakan dan memperparah luka. Pertanyaanya bagaimana jika perban tersebut tidak dibasuh dg air sama sekali?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here